Monday, 12 August 2013

Yuk! Liburan ke Kawah Putih Tinggi Raja


Berlibur, biasanya dimanfaatkan untuk mengunjungi tempat-tempat indah bersama keluarga sekaligus melepas kepenatan pekerjaan sehari-hari. 

Salah satu pilihan wisata petualangan yang aman bagi keluarga dengan mengunjungi kawasan wisata Kawah Putih Tinggi Raja di Sumatra Utara. Di Objek wisata cagar alam seluas 176 hektar terdapat Kawah Putih Tinggi Raja yang memiliki luas sekitar 4 hektare.

Bagai mutiara dalam lumpur. Itulah ungkapan yang paling tepat untuk menggambarkan keindahan Kawah Putih Tinggi Raja. Keindahannya bisa disandingkan dengan Kawah Putih Ciwidey di Bandung dan Hot Spring Pamukkale di Turki.

Terletak di Desa Dolok Tinggi Raja Kecamatan Silau Kahean yang berada di ujung pelosok Kabupaten Simalungun, Sumatra Utara. Berada di tengah-tengah kawasan hutan lindung, terdapat pesona bukit kapur seputih salju dengan danau air panas berwarna biru kehijauan.

Dipastikan siapa saja yang melihatnya, akan dibuat ternganga dan terbelalak. Kaget, kagum, terpesona, hingga tak percaya. Di sebuah tempat yang sangat terpencil ada surga yang terserak.

Kawah Putih Tinggi Raja memilki sumber air panas berasal dari bukit-bukit kecil di daerah tersebut. Air panas ini mengalir ke sungai Bah Balakbak yang berbatu dan berair jernih dan sejuk. Di sini pengunjung bisa mandi pada pertemuan air panas dan air dingin yang sangat nikmat sebagai hasil proses alam.

Sedikit orang yang tau terhadap tempat ini. Sekitar 3 tahun lalu, bukit kapur itu benar-benar seputih kapas atau salju. Terhampar luas kontras dengan langit yang berwarna biru dan pepohonan yang berwarna hijau. Namun, kini bukit kapur itu sudah mulai menghitam akibat reaksi oksigen di udara.

Penduduk setempat memiliki legenda tersendiri dalam proses terbentuknya bukit kapur dan Kawah Putih Tinggi Raja ini. 

Rudi Saragih, salah satu penduduk yang juga membuka warung kopi di sekitar lokasi wisata mengisahkan puluhan tahun silam penduduk Tinggi Raja menanam padi beramai-ramai. Setelah prosesi menanam padi itu selesai, masyarakat pun berpesta dan berdoa agar panennya kelak berhasil.

Pada saat yang sama, ada seorang nenek renta yang juga penduduk kampung itu tidak memiliki sanak keluarga. Dia tidak bisa lagi bertani seperti yang lain. Bahkan untuk hadir ke pesta tanam pun tidak bisa.

Kemudian pemimpin kampung itu meminta seorang pemuda lajang dan seorang anak kecil untuk mengantarkan makanan dari pesta. Namun, ditengah perjalanan pemuda dan anak kecil tadi memakan makanan titipan untuk sang nenek hingga tersisa tulang belulang.

"Akhirnya nenek itu marah, diambilnya tempurung kelapa dan dipukul-pukul menjadi sebuah irama, diambilnya seekor kucing dan kemudian ditarik-tarik sambil menari. Kucing itu disiksanya sampai akhirnya keluar air dari berbagai sisi karena murka sang nenek dan kucing itu," tuturnya.

Akhirnya penduduk berlarian ke kampung atas untuk menghidari air yang keluar di halaman-halaman rumah mereka. Hingga saat ini, kucing menjadi binatang yang dikeramatkan di Tinggi Raja.

Untuk menuju Kawah Putih Tinggi Raja, dibutuhkan waktu 3-5 jam melalui jalan berbatu. Jalanan yang penuh debu bila kemarau dan berubah menjadi kubangan lumpur saat hujan mengguyur. 

Rute yang ditempuh dari Medan bisa melalui Dolok Merangir-Tebing Tinggi-Dolok Masihul tepatnya di simpang Kerapuh. Kemudian bisa dilanjutkan melalui Silau Dunia-Negeri Dolok-Silau Kahean-Nagari Dolok MOrawa-Dolok Tinggi Raja.

Jika melalui rute tersebut, akan melewati jalanan yang rusak sejauh 25 Km dengan waktu tempuh 3-4 jam. Namun, bila melalui Kampung Marubun-Bangun Purba hanya akan melewati jalanan rusak sejauh 11 Km atau ditempuh dalam waktu 2 jam. Seru, Yuk berpetualang!

8 comments:

  1. Amazing!! jadi pengen kesana lagi :)
    tapi sayng jalannya rusa berat :(

    ReplyDelete
  2. Keereeeen ;)
    akuu akan datang ketempat iniii :D
    sihiiiiiyyyyyy

    ReplyDelete
  3. KEREEEEN BIINGIITZ :D
    bakalan kesini nih kayaknya
    siiiiihiiiiyyyy :D

    ReplyDelete
  4. Bukit Kapur Tinggi Raja ( kawah Putih )
    berkali kali pergi pulang dari sana, semakin lama semakin mengecewakan..
    sudah perjalanan yang sangat jauh sampai 3-4 jam disertai jalan yang rusak
    dan juga cuaca yg panas, tapi dianggap seperti BANK BERJALAN.
    berawal dari permintaan sumbangan dikarenakan perbaikan jalan yg rusak,
    maka kami hargai lah memberi sumbangan senilai 2ribu rupiah..
    sesampai disana masuklah ke toilet yg digantungkan kotak sumbangan. kami beri la 5 ribu rupiah
    berhubung ada sekitar 6 anggota yg memakai toilet tersebut
    tidak lama ke 3 kalinya berpergian ke Bukit Kapur ini, kami dihadang oleh sejumlah PP
    dan diwajibkan harus memberi uang senilai 10ribu rupiah ( Tidak tau dan tidak jelas untuk apa sumbangan tersebut )
    dgn rela kami berikan saja, jika tidak dikasi, kami akan dihadang soalnya.
    lanjut perjalanan, kami dimintai lagi sumbangan senilai 5 ribu rupiah untuk perbaikan jalan.
    ( Sumbangan koq ada minimalnya )
    kami berikan lagi.. sesampai kedalam, dimintai lagi sumbangan, kami berikan lagi 2 ribu rupiah..
    dan sampailah disana..

    untuk kali ke 6 kami berpergian, masih sampai daerah bangun purba, sudah dihadang sekelompok
    anak muda tak dikenal dimintai uang sumbangan..pada saat itu mereka menghadang jalan agar tidak bisa dilewati.
    KAMI BERIKAN LAGI LAH UANG.
    sesampai di daerah PP, KAMI BERI LAGI UANG KAMI. dan sekiranya 3km kami jumpa lagi sejumlah pp
    yg memperbaiki jalan, KAMI BERI LAH 5 RIBU RUPIAH.
    dan sekiranya 3km, Dijumpai lagi sumbangan untuk perbaikan jalan.
    Kami berilah senilai 2 ribu rupiah dan hadiah yg kami dapat adalah makian seperti " KOK 2 RIBU KAU KASIH "
    lalu kami menjawab " sudah banyak didpn yg minta "
    dan kami pun dijawab " BUKAN URUSAN KAMI ITU " dgn nada bentak. ( Sedap? )
    tak jauh dari sana lagi, DIMINTA LAGI SUMBANGAN WAJIB. KAMI BERILAH LAGI.
    tak jauh lagi dari sana, disambut juga anak anak kecil yg mengikuti org dewasa yg minta meminta
    ( Mungkin orang tuanya juga begitu )
    Sesampai disana, DIMINTAI LAGI tiket masuk perkepala senilai Rp,1000. mmg tdk banyak tapi uda habis dari awal.
    Belum lagi mau HITUNG PARKIR disana 10RIBU Sampai 30RIBU.

    untuk kali ke 10 berpergian, Seperti itu juga, dan jauh lebih parah, 8x dimintai sumbangan setan
    masing" minta minimal tuntutan, kalo ga dikasi uangnya, ga dikasih lewat plus dimaki.
    hitunglah 10ribu untuk 1 tempat, jika dikali 8 sudah 80 ribu perak.
    parahnya lagi toilet disana juga ikut ikutan dimintai perkepala 3000 untuk skali masuk tanpa alasan apapun.
    3000 rupiah jika bawa teman 30 org udah 90 ribu. belum lagi pas pulangnya masuk lagi uda 180ribu..

    SUMBANGAN ATAU PEMERASAN!!?????ADA KAKI ADA TANGAN DIPAKE BUAT NGEMIS
    ORANG JAUH JAUH DATANG MAU BERWISATA LIBURAN, TP DIANGGAP SEPERTI BANK BERJALAN.

    Uang tak jelas kemana dan untuk apa, jalan tetap makin rusak, serba uang disana, sampah bertebaran kemana mana.
    Masihkah anda mau pergi?bole ditanya sama teman yg sudah pernah pergi. kalau perlu dicoba sendiri saja pergi
    semoga menikmati..

    ReplyDelete
    Replies
    1. seriussss???? busettt dahh... emang yaa, Pemda nya cuma peduli sama duitnya aja, ga peduli sama destinasinya. masyarakatnya juga demikian, gak sadar wisata. kalo ga d jaga kan juga ga mungkin ada yg mau datang lagi kesana....

      mirissss...

      Delete
  5. Pemerasan namanya....itu namanya,. yang di maksud PP apa sih? Pemuda Pancasila?????

    ReplyDelete
  6. GILA ITU, MENDING KE MIKIE HOLLIDAY SEKALIAN, TAU KITA MAHALNYA, JALANNYA MULUS SEMULUS PAHA CHERRYBELLE....

    ReplyDelete