Powered By Blogger

Home

Showing posts with label sumut. Show all posts
Showing posts with label sumut. Show all posts

Tuesday, 14 January 2014

Komunitas Medan Petualang : Jelajahi Keindahan Sumut Perkenalkan Pada Dunia



Kemunculan komunitas-komunitas penggila jalan-jalan di Indonesia beberapa waktu terakhir sepertinya juga terjadi di Ibukota Sumatra Utara, Medan. Komunitas berbasis hobi travelling ini mulai banyak muncul demi mengakomodir minat pencinta wisata baik yang berbiaya murah maupun mahal.

Adalah Komunitas Medan Petualang, sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai latar belakang anggotanya ini juga mulai menunjukkan taringnya. Komunitas ini berdiri secara resmi pada 14 Januari 2012.

Aulia Ramadhan Ray yang didapuk sebagai panglima, sebutan ketua di komunitas ini, mengisahkan awal terbentuknya Komunitas Medan Petualang kepada Bisnis.

Pada Oktober 2011, dia bersama Ilman, rekannya di kampus Universitas Negeri Medan (Unimed) ingin menggelar kegiatan untuk mengisi pergantian tahun.

Mereka berdua menginginkan untuk membuat event yang berbeda dari biasanya. Jika biasanya mereka mendaki gunung, kali ini tempat baru yang sangat jarang diekspos dan diketahui masyarakat menjadi tujuan untuk merayakan tahun baru 2012.

Pulau Berhala adalah tujuannya. Lokasi pulau yang tidak jauh dari Medan tepatnya di Kabupaten Serdang Bedagai ini merupakan pulau terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan Malaysia.

Saat itu, Pulau Berhala belum sesohor sekarang. Estimasi biaya kala itu juga masih sangat terjangkau bagi kalangan mahasiswa. Dia mengajak rekan-rekan mahasiswa yang tergabung dalam UKM Teater Unimed yang sama-sama memiliki hobi jalan-jalan. 

Gayung bersambut, sebanyak 16 orang akhirnya memutuskan untuk ikut menyeberangi lautan menuju Pulau Berhala. Tak satupun dari mereka yang pernah menginjakkan kaki di pulau yang hanya dihuni oleh Tentara penjaga perbatasan itu.

Tepat pada 29 Desember 2011 mereka berangkat dari Pantai Cermin sejak pukul 07:00 WIB. Mereka menggunakan jasa perahu nelayan berkapasitas 20 orang karena tidak ada kapal rutin untuk menuju ke pulau itu.

Berbekal riset dari internet, kalkulasi biaya awal sekitar Rp250.000-Rp300.000 per orang untuk 2 hari 1 malam. Untuk ukuran mahasiswa, biaya itu perlu ditabung agar mereka bisa memenuhinya.

Menyeberangi lautan Selat Malaka, kapal nelayan itu dipacu selama 5 jam. Sekitar tengah hari bolong, rombongan tiba di Pulau Berhala dan disambut oleh marinir TNI AL dengan menyerahkan surat izin dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Serdang Bedagai.

"Kami tidak ada membawa bekal makan siang, lalu kami membangun tenda dan masak. Itu pertama kalinya kami sampai di Pulau berhala menjelang tahun baru," ungkap Aulia.

Di Pulau Berhala, sambungnya, terdapat dua pulau lainnya yang berjarak tak jauh bahkan jika air laut tengah surut dapat dijangkau dengan berjalan kaki. 

Akibat begit antusiasnya mereka tiba di sebuah privat island, Aulia dan teman-temannya tidak melewatkan setiap sudut pulau nan indah itu. Mereka mengunjungi penangkaran penyu yang dikelola oleh marinir, melihat penyu-penyu bertelur dimalam hari, tracking keliling pulau, hingga snorkling melihat terumbu karang.

Mereka juga menaiki 700 anak tangga mercusuar untuk menyaksikan sekeliling pulau dari ketinggian. Jika cuaca tengah mendukung, pada malam hari tampak lampu-lampu berkedip-kedip di daratan Malaysia.

Kenyang dengan pengalaman baru di Pulau Berhala, mereka kembali ke Pulau Sumatra menumpang perahu yang sama. Perahu nelayan itu rela menunggu dengan tarif sewa Rp2 juta selama 2 hari. 

Saat perjalanan pulang, perahu dikayuh sejak pukul 11:00 WIB dari ulau itu. Mereka tidak lagi membawa persediaan logistik cukup banyak. Hanya persediaan makan seadanya untuk 16 orang itu.

Perjalanan yang seharusnya ditempuh dalam waktu 4 jam, ternyata setelah 3 jam mengarungi Selat Malaka mereka belum kunjung melihat daratan. Sang nelayan menguji arah perahu secara tradisional, ternyata baru sadar kompas yang digunakan telah rusak.

Akibatnya, hingga malam tiba mereka masih terkatung-katung di lautan. Hampir 12 jam mereka mengarungi lautan tanpa tau arah hingga akhirnya bertemu dengan nelayan lain dan dipandu untuk kembali ke arah Pantai Cermin.

Tengah malam mereka sampai di daratan Serdang Bedagai dan akhirnya memutuskan untuk menginap. Orang tua masing-masing cemas karena tidak kunjung mendapatkan kabar. Mereka tiba di Medan tepat pada 3 Januari 2012. 

Setelah perjalanan mendebarkan itu, masing-masing anggota berkomunikasi dan disepakati diadakan syukuran. Di sebuah rumah makan tepatnya Pasar Merah Square, Medan, mereka menggelar syukuran dari dana perjalanan yang masih tersisa.

"Disitu kami bicarakan ketimbang jalan-jalan enggak jelas, tercetuslah ide bikin komunitas. Nama Medan Petualang secara resmi kami sepakati pada 14 Januari 2012," kisahnya.

Hingga saat ini, Komunitas Medan Petualang telah memiliki anggota lebih dari 700 orang. Mereka rutin mengadakan trip murah meriah baik menggunakan sepeda motor maupun mobil ke lokasi-lokasi yang belum dikenal luas.

Komunitas yang terbuka bagi siapa saja ini berharap untuk memperkenalkan keindahan Sumatra Utara kepada dunia. Danau Linting, Kawah putih Tinggi Raja, Air Terjun Dua Warna, Tangkahan, hingga sisi lain Danau Toba, coba diperkenalkan melalui media sosial.

Anggotanya kini tak hanya mahasiswa Unimed, tetapi telah menyusup ke semua kalangan mulai dari pelajar, PNS, pegawai swasta, pengusaha, hingga pensiunan. Tak ada batasan usia untuk mengikuti komunitas ini.

Syarat untuk bergabung dengan Medan Petualang hanyalah hobi jalan-jalan. Dari hanya 16 orang itu, kini komunitas Medan Petualang menjadi salah satu komunitas yang besar di Medan.

"Awalnya hanya ingin memuaskan dahaga travelling karena Sumut memiliki objek wisata yang indah, tapi kini kami juga bisa membawa orang atau menjadi tour guide bagi yang ingin melihat sisi lain Sumut," paparnya.

Menurut dia, potensi pariwisata Sumut itu tidak kalah dengan Bali. Permasalahnnya, dari pengalaman trip bersama Medan Petualang, sarana dan prasarana objek wisata Sumut sangat memprihatinkan.

Selain infrastruktur jalan yang tragis, perhatian pemerintah setempat terhadap objek wisata juga dinilai masih sangat minim. Mereka belum mempromosikan destinasi wisata dengan maksimal termasuk kesadaran wisata masyarakatnya juga perlu ditingkatkan.

Tidak hanya itu, komunitas ini juga menggelar kegiatan-kegiatan sosial seperti saat Gunung Sinabung di Kabupaten Karo meletus pada September lalu. Komunitas Medan Petualang menggalang dana dari anggotanya untuk membantu masyarakat yang menjadi korban.

******

Nama Komunitas : Medan Petualang
Panglima : Aulia Ramadhan Ray
Sekretaris : Abdur Rahman
Bendahara : Anshari Siregar
Facebook : Grup Medan Petualang
Twitter : @Medan_Petualang
Kontak : 085261421110

*******

Wednesday, 25 December 2013

Uniknya Gereja Katolik Velangkani dengan Arsitektur Kuil Hindu

Unik, itulah kata yang bisa menggambarkan bangunan ini. Gereja Graha Maria Annai Velangkani atau sohor disebut Gereja Velangkani ini tak ubahnya sebuah potret multikultural di Indonesia.

Betapa tidak, siapapun yang baru pertama melihat bangunan ini akan menyangka sebagai kuil tempat beribadah umat Hindu. Bangunan yang memiliki arsitektur unik ini berada di Kota Medan, Sumatra Utara.

Bangunan ini awalnya dibangun oleh pendatang dari Tamil, India selatan yang menganut agama Katolik. Sebuah bangunan kuno di Medan yang dijadikan tempat beribadah bagi umat Katolik sekaligus objek wisata.

Lokasi tepat gereja unik ini di Taman Sakura Indah, Jalan Sakura III Nomor 10, Tanjung Selamat, Medan. Tidak jauh dari Pasar Melati, pasar pakaian bekas impor terbesar di Sumut.

Gereja ini digagas oleh Pastor James Bharata Putra SJ dan diresmikan oleh Uskup Medan, Mgr. Pius Batubara. Tempat ini dibangun sejak 2001 dan selesai pembangunan pada 2005 lalu.

Bangunan utama gereja berbentuk menara yang terdiri dari dua lantai. Lantai dasar dijadikan aula dan lantai atas dipakai sebagai ruang ibadah serta terdapat patung Annai Velangkanni dan puteranya yang didatangkan langsung dari India.

Kubah gereja berjumlah tiga melambangkan konsep ketuhanan Trinitas dalam agama Katolik yaitu Allah, Yesus dan Roh Kudus. Menara yang terdiri dari tujuh jenjang melambangkan tujuh tingkatan surga.

Gereja ini dilengkapi dengan kapel untuk berdoa kepada Maria, kapel untuk mengenang Paus Yohannes Paulus II, serta asrama untuk umat Katolik yang ingin menginap di dekat gereja. Gereja ini terbuka untuk semua umat Katolik, bukan hanya untuk bangsa Tamil saja.

Gereja ini memberikan pengabdiannya kepada Bunda Maria yang telah lama menampakkan dirinya di pesisir desa Velangkanni, Tami Nadu, India sekitar abad 17.

Nama Annai Velangkani diambil dari bahasa India. Annai yang berarti bunda dan Velangkanni adalah desa di mana Bunda Maria menampakkan diri.

Penampakan ini menjadi latar belakang dibangunnya gereja Katolik berarsitektur Mogul, ciri khas kuil-kuil di India.

Saat masuk ke dalam gereja, pengunjung akan terkesima dengan arsitektur yang dibuat begitu indahnya, gambar-gambar dan lukisan berwarna-warni yang memberikan kesan indah dan damai.

Pada dinding-dinding gereja, terdapat relief-relief yang menceritakan peristiwa penyaliban Yesus Kristus. Ada juga tempat di dekat gereja yang disediakan untuk bermain anak-anak. Area parkirnya pun luas dan bersih, sehingga terkesan nyaman.

Menurut sejarahnya. 'Gua Maria’ yang ada di gereja ini meniru aslinya di India, yang mengingatkan akan penampakan Bunda Maria pada abad ke-17, ketika seorang ibu (Annai) yang disembuhkan penyakitnya oleh Bunda Maria di desa Velangkanni yang terletak di pesisir selatan India.

Untuk itulah Gua Maria di India tersebut dinamakan Lourdes Timur. Tempat ziarah Maria Annai Velangkanni terletak di selatan kota Madras, di pantai Teluk Benggala, tenggara India.

Di sanalah Ibu Maria diberi gelar Bunda Penyembuh. Tempat ini mulai dikenal sejak sekitar akhir abad ke-16. Penampakan yang terjadi di sini sudah mendapat pengakuan dari Gereja Katolik.

Multikultural Gereja Annai Velangkanni mulai dapat terlihat melalui struktur bangunannya  yang banyak terdapat tanda-tanda atau simbol-simbol yang beragam. Tidak hanya dari Batak Toba, tetapi juga Karo yang dapat dilihat di pintu masuk Gereja Annai Velangkanni tersebut.

Pintu gerbang masuk dihiasi miniatur rumah adat Batak Toba dan Karo menandakan tidak ada perbedaan suku, bangsa, bahasa, dan kepercayaan di sini melainkan menciptakan Multikultural .

Pada tiang sebelah kanan gapura terdapat ukiran seorang wanita India sedang menari, dan di sebalah kiri seorang pria etnis China sedang memberikan salam. Di sepanjang tembok gerbang juga ada sukiran patung mewakili suku di Indonesia.

Interior gereja penuh relief, lukisan, dan ornamen. Terdapat tiga lukisan di kubah atas altar berbentuk pohon kalpataru  yang menjelaskan kedatangan Yesus untuk kedua kalinya dan pengadilan terakhir.

Pada dinding kiri dan kanan terdapat kutipan sabda Tuhan yang menyejukkann jiwa di tulis dalam 4 bahasa yaitu Inggris, Indonesia, India dan Mandarin. Bagi Anda yang tengah berada di Medan, wajib berwisata religi ke gereja ini.

Inilah foto-foto keunikan Gereja Katolik Velangkani :







Monday, 23 December 2013

Inilah 6 Destinasi Wisata Eksotis Wajib Dikunjungi di Sumut

Liburan tentu dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berlibur bersama rekan maupun keluarga. Jika tengah berlibur di Sumatra Utara, Anda wajib mengunjungi 6 destinasi wisata indah di provinsi ini.

Sumut merupakan provinsi yang yang terletak di Pulau Andalas alias Sumatera dengan ibukota Medan. Provinsi yang paling padat di luar Jawa ini memiliki populasi sekitar 13 juta jiwa. Bagaimana dengan keindahan alam dan budayanya? Paket lengkap!

Di Sumut ada budaya Batak, Melayu, Jawa, Karo, Mandailing, China, India, hingga Arab. Alamnya ada Danau Toba sebagai danau vulkanik terbesar di dunia, pemandian air panas, kebun teh, gunung berapi, pantai dan pulau berpasir putih, terumbu karang, sungai berarus menantang, dan sejuta panorama indah yang mempesona lainnya.

Berikut 6 Destinasi wisata indah yang wajib Anda kunjungi di Sumut :

1. Danau Toba dan Samosir
Danau Toba

Tentu Sumut identik dengan Danau Toba. Danau vukanik terbesar di dunia ini direncanakan akan menjadi world geopark. Selain karena asal usul terbentuknya danau ini yang mengundang decak kagum, keindahan alam danau yang ada di 7 Kabupaten/Kota ini juga memiliki daya pikat tersendiri.

Jika ingin menikmati Danau Toba dalam kemeriahan, coba datang pada minggu kedua bulan September setiap tahun. Festival Danau Toba menjadi agenda rutin yang menampilkan berbagai atraksi budaya Sumut.

Selain itu, menikmati Danau Toba juga tidak hanya dari Parapat saja. Berbagai sudut danau ini benar-benar membuat decak kagum. Berwisata budaya di Tomok, Pusuk Buhit, hingga belajar menenun di Samosir merupakan kegiatan wisata yang tak ternilai.

2. Kawah Putih Tinggi Raja
Kawah Putih Tinggi Raja

Kawasan wisata Kawah Putih Tinggi Raja mulai populer dikalangan wisatawan sejak 2005 lalu. Keindahan kawah ini patut disejajarkan dengan Hot Spring Pamukkale di Turki dan Kawah Putih di Ciwidey Bandung.

Terletak di Desa Dolok Tinggi Raja Kecamatan Silau Kahean yang berada di ujung pelosok Kabupaten Simalungun, Sumut. Berada di tengah-tengah kawasan hutan lindung, terdapat pesona bukit kapur seputih salju dengan danau air panas berwarna biru kehijauan.

Dipastikan siapa saja yang melihatnya, akan dibuat ternganga dan terbelalak. Kaget, kagum, terpesona, hingga tak percaya. Di sebuah tempat yang sangat terpencil ada secuil keindahan taman surga.

3. Danau Linting
Danau Linting berwarna hijau

Sumatra Utara ternyata tidak hanya memiliki Danau Toba yang terkenal sebagai danau vulkanik terbesar di dunia. Sumut juga menyimpan banyak lokasi-lokasi wisata yang mempesona selain Danau Toba dan tentu patut untuk dijelajahi.

Danau Linting adalah salah satu pesona wisata yang ada di Sumut. Danau ini terletak di tiga desa yakni Desa Sibunga-Bunga, Desa Gunung Manumpak dan Desa Durian IV Mbelang, Kecamatan Sinembah Tanjung Muda (STM) Hulu, Kabupaten Deliserdang.

Memang, danau ini belum sohor layaknya Danau Toba. Namun, keindahan alam Danau Linting layak untuk dinikmati para pencinta keindahan alam.

Danau seluas sekitar satu hektar itu berwarna hijau toska, tapi ada juga yang bilang kalau danau itu berwarna biru kehijauan. Danau berair panas itu tidak berbau belerang.

4. Air Terjun Dua Warna
Air Terjun Dua Warna Sibolangit

Salah satu keindahan yang tersembunyi di Sumut adalah Air Terjun Dua Warna atau dikenal Air Terjun Telaga Biru Sibolangit. Air terjun dengan tinggi lebih dari 75 meter itu terletak di ketinggian 1.475 Mdpl.

Mengalir dari hulu sungai Sinembah 1 dan terbentuk dari letusan Gunung Sibayak ratusan tahun silam, membuat air terjun ini tampak eksotis dibandingkan dengan pemandangan serupa.

Disebut dua warna karena di dalam satu lokasi terdapat dua air terjun yang berbeda warna. Satu air terjun berwarna biru kehijauan sedangkan air terjun lainnya berwarna putih jernih.

Kedua air terjun tersebut saling berhadapan dengan suhu yang berbeda pula. Namun, yang paling mempesona adalah air terjun berwarna biru kehijauan dengan kandungan belerang yang keluar dari dinding-dinding bebatuan.

5. Pulau Mursala dan Sibolga
Air Terjun Mursala di Sibolga

Pernah menonton film King Kong yang terkenal itu? Ternyata film itu pernah shooting di Indonesia lho, tepatnya di Pulau Mursala. Pulau ini memiliki salah satu air terjun terindah di Tanah Air.

Air terjun Mursala namanya. Keunikan air terjun ini karena air yang jatuh dari tebing langsung menuju laut lepas di Samudera Hindia. Keren! Jarang wisatawan tahu keindahan ini.

Selain menikmati air terjun di Pulau Mursala, Anda juga bisa menikmati pulau pribadi di gugusan kepulauan Tapanuli Tengah ini. Pasir putih dengan air jernih berwarna biru menjadi daya tarik tersendiri untuk melepas kepenatan setelah beraktivitas.

Tak hanya itu, Anda juga bisa menikmati Pantai Pandan di Sibolga serta kota pelabuhan tertua di Indonesia : Barus. Dari Baruslah konon agama Islam dan Kristen masuk ke Indonesia.

6. Pulau Berhala
Pulau Berhala Sergei

Pulau ini tengah naik daun dikalangan pencinta wisata di Medan dan sekitarnya. Pulau Berhala seperti layaknya privat island, pulau pribadi. Sebagai pulau terluar ke-10 Indonesia, pulau ini berbatasan dengan Malaysia dan akan dikembangkan menjadi marine tourism atau wisata bahari oleh Pemkab Serdang Bedagai.

Pulau seluas 5 hektare ini masuk dalam wilayah Kecamatan Tanjung Beringin, Sumatera Utara, terletak di selat malaka. Berada di titik koordinat 030  46’38”U dan 990 30’03”T, Pulau Berhala hanya berjarak 17 Km dari bibir pantai Tanjung Beringin atau 65 Km dari Pelabuhan Belawan Medan.

Potensi wisata yang dimiliki pulau ini memang luar biasa. Laut yang bersih dan jernih serta alam tropis yang benar-benar belum tersentuh. Dengan alam yang mempesona itu dan berada di perbatasan. Pulau ini di jaga oleh Marinir, TNI dan Angkatan Laut. Pulau Berhala memiliki terumbu karang yang masih bagus dan terdapat banyak jenis ikan yang hidup di perairan dangkal.

*******

Saturday, 14 December 2013

Tak Cuma di Way Kambas, Wisata Gajah Juga Ada di Sumut Lho!

Gajah Sumatra (Elephas Maximus) ternyata tidak hanya ditangkarkan di Way Kambas, Lampung. Gajah endemik Sumatra ini juga dapat ditemukan di Sumatra Utara, tepatnya di Tangkahan, Kupaten Langkat.

Kawasan ekowisata Tangkahan merupakan salah satu pintu masuk ke Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang letaknya tidak jauh dari lokasi wisata Bukit Lawang.

Di Tangkahan, wisatawan dapat menikmati keindahan pertemuan dua sungai berair jernih kehijauan dengan hiasan batu-batu besar di tepian hutan. Pelancong lokal, biasanya lebih menyukai mandi di ari sungai yang dingin serta bermain body rafting.

Menyusuri sungai jernih yang dangkal, Anda akan menemukan taman kupu-kupu dan air terjun nan indah. Jernihnya air akan menghipnotis Anda untuk berlama-lama didalamnya.

Tidak hanya air dingin, di kawasan Tangkahan juga terdapat sebuah sumber air panas yang besarnya seukuran bak mandi. Sumber air panas yang berada di gua tepi sungai ini hanya cukup untuk berendam satu orang.

Monyet-monyet liar yang ada di TNGL juga seru untuk disaksikan di tepian sungai. Anda cukup menyediakan kudapan kacang bagi mereka agar tidak mengganggu.

Jika beruntung, pengunjung dapat menyaksikan kawanan gajah yang sedang mengajak wisatawan lain berjalan-jalan mengitari aliran sungai. Namun, jika ingin langsung merasakan sensasi menunggang gajah, memandikannya serta berjalan-jalan masuk hutan, juga bisa dilakukan.

Berjarak sekitar 1 Km dari pintu masuk ekowisata Tangkahan, Anda bisa menemukan 8 ekor gajah dirawat oleh perawat gajah atau Mahot.

Kawasan pemeliharaan gajah atau Conservation Response Unit (CRU) Tangkahan ini telah diprogramkan sejak 2002 dan mulai dioperasikan pada 2007 lalu.

Gajah-gajah ini berasal dari KSDA Aceh sebanyak 4 ekor dan 3 ekor lainnya dari tangkapan di Tangkahan. Masih ada satu kawanan gajah liar di hutan TNGL yang masih bebas sekitar 6 ekor.

Di CRU Tangkahan, terdapat satu gajah kecil yang lahir di Tangkahan berusia 19 bulan bernama Amelia dengan induk bernama Sari. 5 gajah betina lainnya masing-masing bernama Ardana, Olive, Agustin, Yuni dan Eva. Sedangkan satu gajah berjenis kelamin jantan bernama Teo.

Wisatawan yang berkunjung ke Tangkahan sebagian besar berasal dari Belanda dan Australia. Mereka biasanya menyukai paket perjalanan menunggang gajah dan memandikan gajah Sumatra.

Paket menunggang binatang raksasa ini dibanderol Rp650.000 per jam yang dilakukan pada pukul 10.00 WIB, 11.00 WIB dan 14.00 WIB setiap harinya.

Sementara untuk memandikan gajah, Anda dikenakan tarif Rp100.000/orang untuk wisatawan asing dan Rp50.000/orang untuk wisatawan lokal. Waktu memandikan gajah hanya dua kali sehari yakni pukul 08.30 WIB dan 15.30 WIB.

Paket fun trip menunggang gajah akan melewati aliran sungai dan masuk ke dalam hutan TNGL. Biasanya, gajah-gajah ini memang digunakan untuk berpatroli menjaga kawasan hutan dari pembalakan liar.

Tak kalah seru dengan menunggang gajah, memandikan binatang warisan purbakala ini juga mengasyikkan. Sensasi disemprot air dari dalam belalai gajah akan sangat terasa serunya. Apalagi dengan tingkah polah gajah kecil yang nakal.

Gajah-gajah di Tangkahan dirawat oleh sekitar 15 orang Mahot dari warga sekitar dan KSDA. Gajah itu juga dijamin kesehatannya oleh dokter yang langsung didatangkan dari Jerman.

Hewan yang memiliki penciuman tajam ini cukup galak jika Anda coba untuk mendekati tanpa ditemani oleh Mahot. Sangat disarankan untuk berhati-hati jika ingin mendekatinya.

Di Tangkahan, Anda bisa menginap di homestay yang dibanderol Rp50.000-Rp200.000 per malam. Dengan fasilitas yang cukup memadai, Anda akan merasakan sensasi tenangnya menginap di dalam hutan.

Untuk menuju ke Tangkahan, dari Medan memakan waktu 4-5 jam dengan mengambil arah Banda Aceh melalui Kabupaten Langkat. Setelah melewati Stabat, Ibukota Kabupaten Langkat, sekitar 6 Km ada sebuah pertigaan tepatnya di Simpang Beringin Anda harus berbelok ke arah kiri.

Arah yang dituju adalah Sawit Seberang-Padang Tualang. Medan jalan yang sempit masih cukup nyaman karena dilapisi aspal dengan pemandangan kiri dan kanan adalah perkebunan sawit serta perkebunan karet.

Jalan berbatu, becek saat hujan dan berdebu saat kemarau, siap-siap menyambut saat perjalanan telah ditempuh sekitar 2 jam. Setelah memasuki Desa Namo Sialang, barulah muncul tulisan Ekowisata Tangkahan.

Tarif masuk Tangkahan untuk parkir Rp5.000/motor dan Rp20.000/mobil. Karcis masuk kawasan ini hanya dibanderol Rp3.000 per orang dan jika ingin menyeberang sungai Batang Serangan dan Sungai Buluh sebagai anak sungai harus naik getek berbentuk gubuk dengan tarif Rp3.000 pulang-pergi. Murah kan?




Thursday, 12 December 2013

ARUNG JERAM : Satukan Green Canyon & Citarik di Sei Bah Bolon

Minggu pagi di pertengahan bulan Juli, tepatnya 14 Juli 2013, saya berkesempatan untuk menjelajah alam Sumatra Utara. Bersama sembilan anggota komunitas Medan Petualang, Saya akan mengarungi eksotika Sungai Bah Bolon di Kabupaten Serdang Bedagai.

Arung jeram atau sering disebut rafting adalah berwisata sekaligus olahraga alam yang cukup digemari. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyebut rafting sebagai wisata minat khusus.

Semakin hari, penggemar wisata ini semakin banyak. Tidak hanya kalangan anak muda pencinta alam, tetapi juga perusahaan-perusahaan menghabiskan wisata bersama karyawannya dengan berarungjeram bersama.

Salah satu tempat rafting yang cukup dikenal di Sumatra Utara adalah rafting di Sungai Sei Bah Bolon. Sungai Sei Bah Bolon mengalir melewati Siantar, Tebing Tinggi, Serdang Bedagai, Sumatra Utara.

Berbekal sebuah foto dan video di media sosial Youtube, tempat ini terlihat mirip Green Canyon di Pangandaran, Pulau Jawa. Pendapat itu tidak hanya diungkapkan oleh para pengunjung yang datang. Warga setempat bahkan dengan berani mengatakan bahwa di tempat itu terdapat pemandian para bidadari.

Saya bersama dengan komunitas Medan Petualang berkumpul sejak pukul 06.00 WIB. Semua peralatan pribadi telah disiapkan. Kami disarankan mengenakan celana pendek, kaos oblong, sendal gunung, dan peralatan lain seperlunya.

Sepuluh peserta telah lengkap yang terdiri dari delapan laki-laki dan dua orang perempuan. Mengendarai dua mobil berkapasitas masing-masing enam orang kami menembus udara pagi Kota Medan menuju Serdang Bedagai. Sengaja dipilih rute belakang yang melewati perkebunan karet dan kelapa sawit.

Saat perjalanan menuju Sei Bah (air, aliran sungai) Bolon, orang-orang pasti tidak akan percaya bahwa di Kecamatan Sipispis ada sungai seindah Green Canyon. Setelah melewati kawasan Dolok Masihul, pemandangan hanyalah perkebunan sawit dan karet. Sementara, sebagian besar ruas jalan di Kecamatan Sipispis akan menjadi kubangan saat hujan, dan akan menghasilkan debu yang pekat saat kemarau.
 
Terlepas dari kekurangan itu, Anda tetap harus percaya bahwa keindahan itu akan tiba. Begitu juga dengan ucapan warga bahwa pada bagian sungai yang memiliki hulu di Pegunungan Simbolon, Kabupaten Simalungun, ini terdapat pemandian para bidadari. Meskipun hanya sebuah mitos, Anda pasti akan melihat mengapa mereka membuat cerita itu.

Meskipun perjalanan melelahkan, kebetulan saat itu sebagian peserta menunaikan ibadah puasa, namun tidak menghalangi antusiasme untuk menikmati wisata air yang sangat menantang itu.

Membutuhkan waktu sekitar tiga jam dari Medan dengan kecepatan sekitar 40-50 km/jam. Tiba di lokasi yang sebelumnya telah dihubungi terlebih dahulu untuk booking perahu dengan memberitahukan jumlah peserta yang akan rafting.

Ancol Arung Jeram yang terletak di Dusun III Desa Buluh Duri, Kecamatan Sipispis, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatra Utara, merupakan tujuan kami. Reservasi sudah dilakukan kepada Teddy Misuan, sang pemilik jasa arung jeram.

Ancol Arung Jeram atau dikenal dengan sebutan Green Family Adventures menawarkan dua paket petualangan. Pertama paket family rafting dengan harga Rp180.000 per orang dengan rute sekitar 16 kilometer ditempuh dalam waktu 4-5 jam pengarungan. Kemudian paket adventures rafting yang dipatok Rp300.000 per orang dengan rute sekitar 20 kilometer ditempuh dalam waktu 6-7 jam pengarungan.

Family rafting pilihan kami. Selain terjangkau, paket family rafting juga disarankan oleh pengelola rafting bagi para pemula. Sebagian besar dari peserta yang ikut belum pernah rafting dan tercatat sebagai pemula.

Tiba di lokasi, petugas dari Ancol Arung Jeram memandu peserta untuk memakai peralatan yang diperlukan. Pelampung, helm, dan dayung wajib dipakai. Peralatan elektronik seperti handphone, kamera, jam tangan, dan dompet wajib disimpan di tempat penitipan yang terkunci rapi.

Jika tetap ingin mengambil gambar saat rafting, bisa juga menitipkan kepada skipper untuk disimpan di dalam dry pack. Anda tetap bisa rafting dengan tenang dan menunggu hasil foto dari skipper.

Namun, disarankan kamera juga dilengkapi dengan waterproof agar tidak rusak ketika perahu terbalik. Bisa juga menggunakan jasa tim dokumentasi yang disediakan oleh pengelola rafting. Tim dokumentasi dapat disewa bila minimum peserta rafting 15 orang dengan tarif Rp300.000 sekali pengarungan.

Setelah segala perlengkapan dipakai, peserta diangkut menggunakan mobil bak terbuka sekaligus membawa perahu karet dan perlengkapan lain ke titik pemberangkatan. Memakan waktu sekitar 1 jam, tiba di titik start peserta harus menuruni jalan setapak menuju sungai Sei Bah Bolon.

Tiba di sungai Sei Bah Bolon, 10 orang peserta tidak sabar untuk menyentuh air yang berwarna jernih kehijauan. Sambil menunggu skipper membawa perahu karet, semua peserta sudah berenang di sungai bersama masyarakat sekitar yang sedang mandi dan mencuci di sungai.

Pemandangan alam yang luar biasa alami dengan tebing-tebing berwarna hijau di kiri dan kanan sungai menambah keindahan Sei Bah Bolon. Ketika skipper tiba, dia langsung memberi arahan cara-cara rafting dan pengamanannya.

Ditutup dengan doa bersama, pengarahan oleh skipper menjadi panduan peserta untuk mengarungi sungai jernih tersebut. Dua perahu karet digunakan untuk mengangkut 10 peserta.

Sekitar pukul 11.00 WIB, petualangan dimulai. Peserta arung jeram di Sei Bah Bolon langsung merasakan sensasi keindahan itu, seketika setelah start dari Desa Huta Bayu.

Hanya sekitar 3 menit dari garis start, pemandangan yang luar biasa di antara celah tebing yang hijau langsung membuat waktu seolah berhenti sejenak. Secara tak sadar, orang yang baru pertama kali datang selalu tercengang ketika memandangnya : air terjun yang mengalir ke sungai.

Meski tidak diketahui persis asal-usulnya, masyarakat telah menamai air terjun setinggi lebih dari 10 meter ini dengan sebutan Bah Gula. Di tempat tersembunyi di antara dua tebing berwarna hijau inilah, beberapa orang membual pernah melihat bidadari sedang mandi.

Selain keindahan air terjun, pinggiran sungai yang berupa tebing berbatu juga tak kalah indahnya untuk dicermati. Terbentuk secara alami, beberapa ornamen batuan yang sangat rapi bagaikan situs purbakala yang sengaja diukir oleh para seniman.

Ada sebuah barisan batu berbentuk kotak tersusun rapi di sisi kanan sungai. Batu berwarna hitam dan ditutupi lumut hijau itu seperti sebuah keajaiban yang sengaja disusun oleh seseroang. Namun, hal itu mustahil dilakukan oleh tangan manusia. Susunan batu raksasa itu disebut 'magic wall'.

Selain air dan tebing yang indah, tentu untuk rafting diperlukan jeram yang menantang. Di Sei Bah Bolon, setidaknya ada delapan jeram yang terkenal dengan grade II dan III sama seperti di Sungai Citarik, Sukabumi, Jawa Barat. Jeram-jeram itu antara lain disebut jeram mackay, sihorbo, roller coaster, ngehek, petai, babi, landasan/prosotan dan jeram kodok.

Setiap ada jeram, semua orang menjerit histeris seperti kerasukan dipermainkan arus. Jeritan ini bukanlah seperti dalam film horror, melainkan hanya luapan kegembiraan saat berhasil melewati guncangan arus deras sungai tersebut. Terutama ketika perahu terbalik melawan jeram-jeram yang ada.

Selain keseruan bermain air di jeram-jeram Sei Bah Bolon, Anda juga bisa menikmati keindahan alam dengan pemandangan binatang-binatang langka. Di sisi kiri dan kanan sungai, jauh di atas tebing terlihat kawanan monyet bergerombol. Ada juga monyet langka yang disebut kya-kya di habitat daerah aliran sungai ini.

Di tengah-tengah perjalanan, skipper menghentikan perjalanan untuk beristirahat. Ancol Arung Jeram menyediakan kudapan untuk dinikmati oleh peserta yang tidak berpuasa. Di lokasi itu, peserta juga bisa bermain akar pohon layaknya tarzan yang kemudian menceburkan diri ke dalam jernihnya aliran air Bah Bolon.

Usai beristirahat, peserta juga kembali dibawa ke sebuah tempat yang cukup aneh. Di pinggir sungai itu ada hamparan pasir putih yang tak lazim ada di lokasi itu. Di seberang hamparan pasir, terdapat batu yang tinggi. Peserta diperbolehkan untuk meloncat dari batu setinggi 7 meter ke dalam sungai.

Tak terasa, waktu pengarungan selama 5 jam telah berakhir. Sesampainya di titik finnish, peserta telah disediakan kamar mandi bilas dan tentu makan siang. Perjalanan yang cukup lama telah menguras energi dan menyebabkan peserta kelaparan.

Makanan yang disediakan oleh Ancol Arung Jeram cukup enak. Nasi putih, sayur, dan ayam goreng menjadi menu kami saat itu. Lahap, tentu saja karena kondisi lelah dan lapar.

Arung jeram pun berakhir. Sebelum bertolak ke Medan, kami mencoba mengunjungi Kota Tebing Tinggi. Di Kota ini, wisata kuliner tak dilewatkan. Mie Tek-Tek khas Tebing Tinggi dan Lemang Bambu yang dibakar menggunakan arang batok kelapa. Maknyus...

Cemana? (Baca : Bagaimana) tertarik?

--------------------------------
Paket Ancol Arung Jeram :
1. Family rafting
-Tarif : Rp180.000/orang
-Waktu : 4-5 jam pengarungan
-Jarak : 16 kilometer
-Fasilitas : Guide, peralatan, asuransi, makan siang

2. Adventure Rafting
-Tarif : Rp300.000/orang
-Waktu : 6-7 jam
-Jarak : 20 kilometer
-Fasilitas : Guide, peralatan, asuransi, 2 kali makan, penjemputan di Medan
-----------------------------------
Informasi :
Facebook : Ancol Arung Jeram
Website : www.greenfamilyadventure.com

****

Saturday, 16 November 2013

Air Terjun Sipiso-Piso, Sisi Lain Danau Toba

Danau Toba menjadi magnet bagi turis untuk mengunjungi Sumatra Utara. Danau yang membentang di 7 kabupaten/kota di Sumut ini memiliki banyak pesona dari berbagai sisinya.

Salah satu sudut Danau Toba yang sayang untuk dilewatkan adalah pesona Air Terjun Sipiso-piso. Air terjun yang tercatat tertinggi ke-4 di Indonesia ini memiliki ketinggian sekitar 120 meter.

Sipiso-piso terletak di sebelah utara Danau Toba tepatnya di Desa Sitongging, sekitar 24 kilometer dari Kabanjahe, Ibukota Kabupaten Karo. Air terjun Sipiso-piso terbuat dari sungai bawah tanah di plato Karo yang mengalir melalui sebuah gua di sisi kawah Danau Toba.

Berada di ketinggian 800 Mdpl, cuaca di sekitar air terjun ini tergolong sejuk. Butuh perjuangan dan mengeluarkan sedikit keringat untuk menuju air terjun yang berasal dari kata piso dalam bahasa Karo karena bentuknya yang menyerupai pisau ini.

Setelah membayar retribusi sekitar Rp5.000, pengunjung harus menuruni ribuan anak tangga sekitar 1 jam untuk menuju air terjun Sipiso-piso. Sepanjang perjalanan, wisatawan dapat menikmati indahnya Danau Toba dari sisi Tongging.

Pemandangan Danau Toba menjadi pelengkap keindahan air terjun ini. Pihak Dinas Pariwisata setempat menyediakan sebuah taman lengkap dengan tempat beristirahat di area parkir kendaraan.

Dari puncak pemandangan ke arah utara, disuguhi cantiknya air terjun Sipiso-Piso. Menoleh ke arah selatan, wisatawan akan terpana dengan Danau Toba dari ketinggian.

Tak sedikit wisatawan yang memilih untuk menikmati keindahan keduanya dari taman. Sebagian wisatawan lain memilih untuk menuruni anak tangga dan mencapai air terjun serta menikmati kesegaran airnya.

Dari kejauhan saja, tampias air terjun Sipiso-piso telah terasa. Dinginnya air memberikan kesegaran tersendiri bagi siapa saja yang menceburkan diri di aliran sungai Sipiso-piso.

Pekerjaan berat yang tentu melelahkan adalah kembali menaiki ribuan anak tangga menuju area parkir. Banyak wisatawan yang kelelahan karena usai bermain air di bawah air terjun Sipiso-piso harus kembali menaiki ribuan anak tangga itu.

Stamina dan tenaga harus benar-benar disiapkan dengan membawa perbekalan yang cukup. Meskipun tangga tersebut terbuat dari semen dan aman untuk dilalui, tidak sedikit wisatawan yang berkali-kali berhenti akibat kelelahan.

Setelah menikmati keindahan air terjun Sipiso-piso dan Danau Toba dari kejauhan, wisatawan bisa langsung menuju Tongging. Salah satu sudut Danau Toba di Kabupaten Karo ini tak kalah mempesona.

Berjarak sekitar 11 Km dari area parkir air terjun Sipiso-piso, wisatawan bisa menikmati kesegaran air Danau Toba. Berenang dan memancing, menjadi salah satu kegiatan favorit di Tongging.

Lapar? coba menikmati ikan bakar yang dihasilkan dari Danau Toba. Wisatawan dapat memilih sendiri ikan segar yang ingin dinikmatinya. Namun jangan salah, porsinya rata-rata dijual per kilogram dengan harga yang terjangkau.

Di Tongging, tersedia juga penginapan-penginapan dengan tarif sekitar Rp100.000 hingga Rp500.000 per malam. Anda dapat menikmati ketenangan alam Danau Toba di sisi lain selain Parapat.

Untuk menuju Sipiso-piso dan Tongging, perjalanan dapat ditempuh sekitar 3-5 jam dari Medan. Kendaraan pribadi maupun umum bisa melalui Kabanjahe melalui Berastagi hingga Merek.

Pemandangan hijaunya pegunungan Toba dengan jalan berkelok-kelok menjadi nilai tambah menuju danau vulkanik terbesar di dunia ini. Jangan lupa untuk mengabadikan setiap keindahan alam itu dengan bidikan mata kamera. Selamat berlibur.


Wednesday, 6 November 2013

Wisata Budaya : Rumah Adat Karo Siwaluh Jabu di Kaki Gunung Sinabung


Seorang Nenek tengah beraktivitas di belakang Rumah Adat Siwaluh Jabu, Desa Dokan, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Sumut. Selasa (5/11/2013). Rumah ini diperkirakan telah berusia ratusan tahun
 Keanekaragaman budaya Indonesia memang tidak ada habisnya untuk dikagumi dan dipelajari. Keanekaragaman suku bangsa dan bahasa dapat dilihat dari hasil-hasil budaya yang memiliki ciri khas masing-masing dan telah menjadi identitas budaya yang mampu dipertahankan hingga kini.

Seperti suku-suku lainnya yang memiliki rumah adat, di Suku Karo yang terdapat di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, juga terdapat rumah adat, dimana rumah adat Karo bernama Rumah Siwaluh Jabu.

Rumah Adat Karo sangat terkenal akan keindahan seni arsitekturnya yang khas, gagah dan kokoh dihiasi dengan ornamen-ornamennya yang kaya akan nilai-nilai filosofis.

Bentuk, fungsi dan makna Rumah Adat Karo menggambarkan hubungan yang erat antara masyarakat Karo dengan sesamanya dan antara manusia dengan alam lingkungannya.

Pemilihan bahan untuk membangun Rumah Adat Karo serta proses pembangunannya yang tanpa menggunakan paku besi atau pengikat kawat, melainkan menggunakan pasak dan tali ijuk semakin menambah keunikan Rumah Adat Karo.

Keberadaan Rumah Adat Karo juga tak terlepas dari pembentukan Kuta (kampung) di Tanah Karo yang berawal dari Barung, kemudian menjadi Talun, dan menjadi Kuta dan di dalam Kuta yang besar terdapat Kesain.
Anak-anak Desa Dokan, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, tengah bermain dihalaman depan Rumah Adat Siwaluh Jabu, Selasa (5/11/2013). Rumah adat Karo semakin jarang ditemui di Kabupaten Karo

Pada sebuah Barung biasanya hanya terdapat sebuah rumah sederhana, ketika sebuah Barung berkembang dan sudah terdapat 3 rumah di dalamnya disebut dengan Talun dan bila telah terdapat lebih dari 5 Rumah Adat disebut sebagai Kuta.

Ketika Kuta sudah berkembang lebih pesat dan lebih besar maka Kuta dibagi atas beberapa Kesain (halaman/pekarangan), disesuaikan dengan merga-merga yang pertama manteki (mendirikan) Kuta tersebut.
 
Pembangunan Rumah Adat Karo tidak terlepas dari jiwa masyarakat Karo yang tak lepas dari sifat kekeluargaan dan gotong-royong. Rumah Adat menggambarkan kebesaran suatu Kuta (kampung). Sebab, dalam pembangunan sebuah Rumah Adat membutuhkan tenaga yang besar dan memakan waktu yang cukup lama.

Oleh karena itu pembangunan Rumah Adat dilakukan secara bertahap dan gotong royong yang tak lepas dari unsur kekeluargaan. Kegiatan gotong-royong ini terutama digerakkan oleh Sangkep Sitelu (sukut, kalimbubu dan anak beru) yang dibantu oleh Anak Kuta (masyarakat kampung setempat).

Hal ini tidak terlepas dari sistem pemerintahan sebuah Kuta menggambarkan struktur sosial dan tatanan organisasi yang tinggi pada masyarakat Karo, yang terdiri dari pihak Simantek Kuta (pendiri kampung), Ginemgem (masyarakat yang memiliki hubungan kekeluargaan dengan Simantek Kuta) dan Rayat Derip (penduduk biasa).

Rumah adat ini disebut dengan rumah Siwaluh Jabu karena di dalam rumah adat Karo memiliki delapan ruang dan ditempati oleh delapan keluarga atau Jabu yang berada dalam satu rumah. Namun, terkadang ada juga rumah adat yang terdiri dari empat ruang maupun enam belas ruang.

Di dalam rumah Siwaluh jabu memiliki ciri khas yang unik. Keunikan di dalam rumah Siwaluh Jabu bisa dilihat dari atap bangunan yang ditandai dengan hiasan kepala kerbau lengkap dengan tanduk-tanduknya pada setiap sisi ujung-ujung atap rumah.
Boru Sembiring duduk di pintu rumah Siwaluh Jabu miliknya, Selasa (5/11/2013). Di rumah ini dihuni oleh 8 kepala keluarga secara turun temurun

Adanya kepala kerbau dan tanduk-tanduk kerbau ini mempunyai makna tersendiri yaitu sebagai lambang kesuksesaan pemilik rumah ataupun sebagai penangkal marabahaya.

Dalam Rumah Siwaluh Jabu, ketentuan adat juga berlaku seperti dalam proses pendirian rumah adat tersebut sampai kehidupan di dalam rumah, dan juga penempatan ruang atau jabu juga diatur oleh ketentuan adat.

Selain itu pendirian suatu rumah adat Karo atau Rumah Siwaluh Jabu, harus ditentukan berdasarkan arah hilir (Kejahe) dan hulu (Kejulu) sesuai dengan aliran air sungai yang terdapat di suatu kampung yang mendirikan rumah adat tersebut.

Salah satu desa yang masih memiliki Rumah Adat Karo adalah Desa Dokan, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo. Selain di Dokan, ada juga di Desa Lingga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo yang semuanya berada tidak jauh dari Gunung Sinabung.

Boru Sembiring, nenek berusia 83 tahun ini menghuni salah satu rumah adat yang ada di Desa Dokan. Dia bahkan tidak mengetahui tepat berdirinya rumah yang telah didiami secara turun temurun itu.

Dia mengaku dilahirkan di Siwaluh Jabu milik keluarganya itu. Sejak saat itu, rumah peninggalan nenek moyangnya hampir belum pernah direnovasi total. Hanya ada renovasi akibat kebocoran atap dan penggantian lantai kayu.

Siwaluh Jabuh yang didiami Boru Sembiring bernama Rumah Mbelin. Di Desa Dokan pada awalnya terdapat sekitar 15 Siwaluh Jabu. Namun, kini hanya tersisa sekitar 5 Rumah Adat Karo yang tetap bertahan dimakan usia.

"Saya lahir di sini, sekarang saya berusia 83 tahun, rumah ini sudah lebih dari itu umurnya. Pembuatan rumah ini tanpa ada paku dan baja, semua dari kayu dan tali," ungkapnya dengan bahasa Karo.

Di dalam rumah itu, ada 8 keluarga dengan 4 dapur yang saling berhadapan. Tidak ada ruangan khusus untuk memisahkan keluarga-keluarga itu. Mereka hanya dipisahkan oleh tirai kain yang bahkan pada zaman dahulu tidak pernah menggunakan tirai.

Suami Sembiring telah meninggal beberapa tahun silam. Dia memiliki 3 orang anak dan 13 cucu yang kesemuanya mendiami Rumah Siwaluh Jabu. Tak jarang orang bule meneliti rumah adat tersebut untuk keperluan ilmiah.

"Sejak dulu sampai sekarang, rumah ini tidak pernah roboh karena gempa bumi karena semuanya menggunakan unsur kayu. Banyak yang penelitian di sini, mereka mau belajar bagaimana cara membuat rumah Siwaluh Jabu," paparnya.

Desa Budaya Dokan terletak di Kecamatan Merek, Kabupaten Karo. Berjarak 98 Km dari Medan dan 14 Kilometer dari Kabanjahe, ibukota Kabupaten Karo. Desa ini dihuni oleh 385 kepala keluarga dengan 1.487 jiwa.

Rumah Adat Karo yang masih aktif digunakan di Desa Dokan antara lain Rumah Mbaru, Rumah Tengah, Rumah Sendi, Rumah Mbelin, dan Rumah Ketek. Material untuk membuat rumah ini hanya menggunakan kayu pengkih, ijuk, dan buluh belangkai.

Boru Sembiring menjelaskan sejarah rumah Siwaluh Jabu kepada pengunjung di dalam rumahnya, Selasa (5/11/2013). Dia dengan ramah akan menjelaskan bagian-bagian Siwaluh Jabu menggunakan bahasa Karo.

Saturday, 19 October 2013

Terpesona Oleh Cantiknya Air Terjun Dua Warna


Sumatra Utara layaknya surga bagi penikmat petualangan dan keindahan alam yang masih belum banyak terjamah tangan-tangan jahil manusia. Keindahan alam di Sumut dapat membuat siapapun terpesona oleh kecantikannya.

Tengoklah Pulau Berhala, Pulau Mursala, Air Terjun Sipiso-piso, Danau Toba, dan ratusan lokasi wisata lain yang tersebar di seluruh wilayah Sumut.

Salah satu keindahan yang tersembunyi di Sumut adalah Air Terjun Dua Warna atau dikenal Air Terjun Telaga Biru Sibolangit. Air terjun dengan tinggi lebih dari 75 meter itu terletak di ketinggian 1.475 Mdpl.

Mengalir dari hulu sungai Sinembah 1 dan terbentuk dari letusan Gunung Sibayak ratusan tahun silam, membuat air terjun ini tampak eksotis dibandingkan dengan pemandangan serupa.

Disebut dua warna karena di dalam satu lokasi terdapat dua air terjun yang berbeda warna. Satu air terjun berwarna biru kehijauan sedangkan air terjun lainnya berwarna putih jernih.

Kedua air terjun tersebut saling berhadapan dengan suhu yang berbeda pula. Namun, yang paling mempesona adalah air terjun berwarna biru kehijauan dengan kandungan belerang yang keluar dari dinding-dinding bebatuan.

Air terjun yang berwarna biru indah memiliki suhu sangat dingin berhias tebing-tebing berlumut. Jatuhnya air membentuk kolam yang menggenang cukup luas dan menegaskan warna kebiruannya akibat aliran kandungan belerang.

Uniknya meskipun mengandung air belerang, air terjun yang telah sohor beberapa tahun terakhir ini tidak tercium bau belerang sama sekali. Tapi jangan sekali-kali mencoba untuk meminum airnya karena dikhawatirkan berbahaya.

Informasi yang beredar di masyarakat setempat, air terjun itu dinamakan dua warna karena saat air jatuh dari ketinggian tampak berwarna putih kelabu. Namun, ketika air itu telah tergenang berubah warna menjadi biru kehijauan.

Akan tetapi, di sekitar air terjun terdapat beberapa masyarakat yang berjualan kopi, mi instan, maupun makanan ringan lain, mengakibatan keindahan air terjun ini sedikit ternoda.

Untuk menikmati air tejun ini, wisatawan dapat menggunakan kendaraan umum ataupun pribadi dari Medan menuju Berastagi. Berjarak sekitar 57 Km atau ditempuh sekitar 1 jam perjalan tepatnya di Bumi Perkemahan Pramuka Sibolangit, Desa Durin Sirugun, Kabupaten Deli Serdang.

Jika membawa kendaraan pribadi, bisa dititipkan di posko ranger sekaligus membayar retribusi menuju air terjun Rp22.500/orang. Dari posko ranger, wisatawan akan dipandu oleh seorang 'guide' untuk tracking menembus hutan tropis yang masih perawan.

Tracking di hutan tropis membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam. Wisatawan dapat menikmati segarnya udara hutan tropis dengan pepohonan yang rimbun dan lembab serta aliran sungai berbatu dengan air yang sangat jernih.

Bila ingin berkemah, di hutan ini juga terdapat shelter atau kawasan disela-sela pepohonan yang memang diperuntukkan bagi lokasi camping. Tak perlu khawatir, jika di akhir pekan, banyak pencinta alam dan wisatawan yang camping di shelter tersebut.

Setibanya di air terjun, segala kepenatan dalam perjalanan menembus hutan tropis punggung Gunung Sibayak akan terbayar. Siapapun akan terpesona oleh kecantikan panorama air terjun dan keindahan alam di sekitarnya. Wonderful Indonesia.

Monday, 12 August 2013

Yuk! Liburan ke Kawah Putih Tinggi Raja


Berlibur, biasanya dimanfaatkan untuk mengunjungi tempat-tempat indah bersama keluarga sekaligus melepas kepenatan pekerjaan sehari-hari. 

Salah satu pilihan wisata petualangan yang aman bagi keluarga dengan mengunjungi kawasan wisata Kawah Putih Tinggi Raja di Sumatra Utara. Di Objek wisata cagar alam seluas 176 hektar terdapat Kawah Putih Tinggi Raja yang memiliki luas sekitar 4 hektare.

Bagai mutiara dalam lumpur. Itulah ungkapan yang paling tepat untuk menggambarkan keindahan Kawah Putih Tinggi Raja. Keindahannya bisa disandingkan dengan Kawah Putih Ciwidey di Bandung dan Hot Spring Pamukkale di Turki.

Terletak di Desa Dolok Tinggi Raja Kecamatan Silau Kahean yang berada di ujung pelosok Kabupaten Simalungun, Sumatra Utara. Berada di tengah-tengah kawasan hutan lindung, terdapat pesona bukit kapur seputih salju dengan danau air panas berwarna biru kehijauan.

Dipastikan siapa saja yang melihatnya, akan dibuat ternganga dan terbelalak. Kaget, kagum, terpesona, hingga tak percaya. Di sebuah tempat yang sangat terpencil ada surga yang terserak.

Kawah Putih Tinggi Raja memilki sumber air panas berasal dari bukit-bukit kecil di daerah tersebut. Air panas ini mengalir ke sungai Bah Balakbak yang berbatu dan berair jernih dan sejuk. Di sini pengunjung bisa mandi pada pertemuan air panas dan air dingin yang sangat nikmat sebagai hasil proses alam.

Sedikit orang yang tau terhadap tempat ini. Sekitar 3 tahun lalu, bukit kapur itu benar-benar seputih kapas atau salju. Terhampar luas kontras dengan langit yang berwarna biru dan pepohonan yang berwarna hijau. Namun, kini bukit kapur itu sudah mulai menghitam akibat reaksi oksigen di udara.

Penduduk setempat memiliki legenda tersendiri dalam proses terbentuknya bukit kapur dan Kawah Putih Tinggi Raja ini. 

Rudi Saragih, salah satu penduduk yang juga membuka warung kopi di sekitar lokasi wisata mengisahkan puluhan tahun silam penduduk Tinggi Raja menanam padi beramai-ramai. Setelah prosesi menanam padi itu selesai, masyarakat pun berpesta dan berdoa agar panennya kelak berhasil.

Pada saat yang sama, ada seorang nenek renta yang juga penduduk kampung itu tidak memiliki sanak keluarga. Dia tidak bisa lagi bertani seperti yang lain. Bahkan untuk hadir ke pesta tanam pun tidak bisa.

Kemudian pemimpin kampung itu meminta seorang pemuda lajang dan seorang anak kecil untuk mengantarkan makanan dari pesta. Namun, ditengah perjalanan pemuda dan anak kecil tadi memakan makanan titipan untuk sang nenek hingga tersisa tulang belulang.

"Akhirnya nenek itu marah, diambilnya tempurung kelapa dan dipukul-pukul menjadi sebuah irama, diambilnya seekor kucing dan kemudian ditarik-tarik sambil menari. Kucing itu disiksanya sampai akhirnya keluar air dari berbagai sisi karena murka sang nenek dan kucing itu," tuturnya.

Akhirnya penduduk berlarian ke kampung atas untuk menghidari air yang keluar di halaman-halaman rumah mereka. Hingga saat ini, kucing menjadi binatang yang dikeramatkan di Tinggi Raja.

Untuk menuju Kawah Putih Tinggi Raja, dibutuhkan waktu 3-5 jam melalui jalan berbatu. Jalanan yang penuh debu bila kemarau dan berubah menjadi kubangan lumpur saat hujan mengguyur. 

Rute yang ditempuh dari Medan bisa melalui Dolok Merangir-Tebing Tinggi-Dolok Masihul tepatnya di simpang Kerapuh. Kemudian bisa dilanjutkan melalui Silau Dunia-Negeri Dolok-Silau Kahean-Nagari Dolok MOrawa-Dolok Tinggi Raja.

Jika melalui rute tersebut, akan melewati jalanan yang rusak sejauh 25 Km dengan waktu tempuh 3-4 jam. Namun, bila melalui Kampung Marubun-Bangun Purba hanya akan melewati jalanan rusak sejauh 11 Km atau ditempuh dalam waktu 2 jam. Seru, Yuk berpetualang!