Powered By Blogger

Home

Showing posts with label wisata. Show all posts
Showing posts with label wisata. Show all posts

Friday, 29 July 2016

Wisata Religi di Medan: Muslim, Kristen, Budha, Hindu, Lengkap

Batak, Kristen, dan Danau Toba. Tiga hal itu yang pasti terbayang ketika menyebut kota Medan maupun Propinsi Sumatra Utara.

Saat menginjakkan kaki di Kota Medan, bayangan itu tak sepenuhnya benar. Kota berpenduduk mayoritas Melayu muslim ini memiliki sejarah yang cukup panjang menapaki jejak-jejak kemajemukan agama di tanah Melayu Deli.

Bukti kemajemukan keyakinan masyarakat Sumatra Utara dapat disaksikan melalui sejumlah arsitektur bangunan yang berdiri megah. Rumah ibadah yang telah berdiri sejak ratusan tahun, hingga dalam dekade akhir 2000-an.

Menelusuri jejak religi di Sumatra Utara, bemula dari jantung Kota Medan, tepatnya di Masjid Raya Al Mashun atau sohor dengan sebutan Masjid Raya Medan.

Masjid bergaya arsitektur Timur Tengah, India, dan Spanyol ini selesai dibangun pada 1909. Keberadaan masjid bersegi delapan tersebut tak bisa dipisahkan dari Istana Maimun Kesultanan Deli.

Sultam Ma'mun Al Rasyid Perkasa Alam, pemimpin Kesultanan Deli sebagai pemrakarsa pembangunan masjid tersebut. JA Tingdeman, arsitek asal Belanda, merancang masjid dengan denah simetris segi delapan dalam corak campuran Maroko, eropa, Melayu dan Timur Tengah.

Masjid yang hingga saat ini masih digunakan sebagai masjid Istana Maimun tersebut, menjadi saksi keindahan perpaduan arsitektur berbagai budaya. Berbagai kegiatan juga masih dilakukan di rumah ibadah ini.

Saat Ramadhan tiba, di Masjid ini juga ada kuliner yang hanya dihidangkan menjelang buka puasa. Ya, bubur pedas khas Masjid Raya Medan, selalu laris manis saat bulan puasa.
 
Gereja Katolik Velangkani
Masih di Kota Medan, jejak religius berikutnya yang tidak boleh terlewatkan adalah Gereja Katolik Velangkani. Rumah ibadah umat Katolik ini tampak sangat berbeda bila dibandingkan dengan gereja-gereja lainnya.
Gereja Graha Maria Annai Velangkani atau sohor disebut Gereja Velangkani ini tak ubahnya sebuah potret multikultural di Indonesia.

Betapa tidak, siapapun yang baru pertama melihat bangunan ini akan menyangka sebagai kuil tempat beribadah umat Hindu. Bangunan yang memiliki arsitektur unik ini berada di Kota Medan, Sumatra Utara.

Bangunan ini awalnya dibangun oleh pendatang dari Tamil, India selatan yang menganut agama Katolik. Sebuah bangunan di Medan yang dijadikan tempat beribadah bagi umat Katolik sekaligus objek wisata.

Lokasi tepat gereja unik ini di Taman Sakura Indah, Jalan Sakura III Nomor 10, Tanjung Selamat, Medan. Tidak jauh dari Pasar Melati, pasar pakaian bekas impor terbesar di Sumut.

Gereja ini digagas oleh Pastor James Bharata Putra SJ dan diresmikan oleh Uskup Medan, Mgr. Pius Batubara. Tempat ini dibangun sejak 2001 dan selesai pembangunan pada 2005 lalu.

Bangunan utama gereja berbentuk menara yang terdiri dari dua lantai. Lantai dasar dijadikan aula dan lantai atas dipakai sebagai ruang ibadah serta terdapat patung Annai Velangkanni dan puteranya yang didatangkan langsung dari India.

Kubah gereja berjumlah tiga melambangkan konsep ketuhanan Trinitas dalam agama Katolik yaitu Allah, Yesus dan Roh Kudus. Menara yang terdiri dari tujuh jenjang melambangkan tujuh tingkatan surga.

Gereja ini dilengkapi dengan kapel untuk berdoa kepada Maria, kapel untuk mengenang Paus Yohannes Paulus II, serta asrama untuk umat Katolik yang ingin menginap di dekat gereja. Gereja ini terbuka untuk semua umat Katolik, bukan hanya untuk bangsa Tamil saja.

Gereja ini memberikan pengabdiannya kepada Bunda Maria yang telah lama menampakkan dirinya di pesisir desa Velangkanni, Tami Nadu, India sekitar abad 17.

Nama Annai Velangkani diambil dari bahasa India. Annai yang berarti bunda dan Velangkanni adalah desa di mana Bunda Maria menampakkan diri.

Penampakan ini menjadi latar belakang dibangunnya gereja Katolik berarsitektur Mogul, ciri khas kuil-kuil di India.

Saat masuk ke dalam gereja, pengunjung akan terkesima dengan arsitektur yang dibuat begitu indahnya, gambar-gambar dan lukisan berwarna-warni yang memberikan kesan indah dan damai.

Pada dinding-dinding gereja, terdapat relief-relief yang menceritakan peristiwa penyaliban Yesus Kristus. Ada juga tempat di dekat gereja yang disediakan untuk bermain anak-anak. Area parkirnya pun luas dan bersih, sehingga terkesan nyaman.

Multikultural Gereja Annai Velangkanni mulai dapat terlihat melalui struktur bangunannya  yang banyak terdapat tanda-tanda atau simbol-simbol yang beragam. Tidak hanya dari Batak Toba, tetapi juga Karo yang dapat dilihat di pintu masuk Gereja Annai Velangkanni tersebut.

Pintu gerbang masuk dihiasi miniatur rumah adat Batak Toba dan Karo menandakan tidak ada perbedaan suku, bangsa, bahasa, dan kepercayaan di sini melainkan menciptakan Multikultural .

Pada tiang sebelah kanan gapura terdapat ukiran seorang wanita India sedang menari, dan di sebalah kiri seorang pria etnis China sedang memberikan salam. Di sepanjang tembok gerbang juga ada sukiran patung mewakili suku di Indonesia.

Setelah menikmati keindahan Gereja Velangkani, jejak religi berikutnya akan membawa wisatawan serasa berada di Thailand atau Burma. Mengapa demikian?
 
International Buddhist Center Lumbini
Lokasi wisata religi yang mirip dengan Burma dan Thailand ini berada di Berastagi, Kabupaten Tanahkaro, Sumut. International Buddhist Center Taman Alam Lumbini Berastagi, adalah rumah ibadah yang sungguh menawan untuk dikunjungi tersebut.

Taman Alam Lumbini, Berastagi merupakan kompleks taman alam yang didalamnya terdapat sebuah kuil Buddha yang sangat megah.

Kuil ataupun Pagoda ini merupakan replika dari Pagoda Shwedagon yang ada di Burma (Myanmar). Warnanya yang kuning keemasan membuat pagoda ini tampak berdiri kokoh dan megah diantara pepohonan yang rindang.

Selain bangunan pagoda yang mengah, komplek seluas sekitar 3 hetar ini juga terhampar taman yang indah dengan mengikuti kontur alam yang curam yang menambah pesona dan keunikannya.

Replika Pagoda Shwedagon di Taman Alam Lumbini, ini merupakan replika tertinggi kedua yang pernah ada atara replika sejenis yang ada di luar Burma dan merupakan tertinggi di Indonesia sehingga meraih rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) dengan kategori Tertinggi di Indonesia dan merupakan rekor pertama yang tercatat di Indonesia.
 
Vihara Adhi Meitreya
Usai berkunjung ke Lumbini, rute berikutnya adalah Maha Vihara Adhi Maitreya. Vihara ini adalah salah satu vihara terbesar di Indonesia. Kawasannya yang indah, kolam ikan koi, dan taman burung membuat siapa saja betah berlama-lama di sana.

Maha Vihara Maitreya memiliki lahan seluas 4,5 hektar. Vihara ini dibangun pada tahun 1991, di dalam kompleks Perumahan Cemara Asri, Jl Boulevard Utara, Medan. Sesuai dengan namanya, Maitreya, Vihara ini memang sangat kental dengan ajaran Buddha Maitreya yang mengajarkan cinta kasih semesta.
Jika masuk ke bagian dalam, pengunjung bisa melihat interior sederhana yang menghiasi. Suasana yang tenang dan sunyi juga terasa di sana, menambah khusyuk peribadatan.

Bagi yang senang binatang, di vihara ada kolam ikan koi dan taman burung. Ikan koi yang cukup besar berenang dengan lincahnya di kolam, sisi sebelah kiri Vihara.

Tak hanya masyarakat Tionghoa, di Medan juga banyak populasi warga keturunan India. Sehingga, tepat di Kampung Madras Kota Medan terdapat sebuah kuil Hindu tertua.
 
Kuil Shri Mariamman
Kuil Shri Mariamman dibangun pada 1884 untuk memuja dewi Kali. Kuil ini terletak di daerah yang dulu lebih terkenal dengan sebutan Kampung Keling.

Lima Dewa yang terdiri dari Dewa Siwa, Wisnum Ganesha, Dewi Durga atau Kali, dan Dewi Aman, menjadi dewa-dewa yang ada di Kuil ini. Pintu gerbang berhias gopuram, yakni menara bertingkat yang biasanya dapat ditemukan di pintu gerbang kuil-kuil Hindu dari India Selatan.

Terakhir, lokasi yang patut didatangi yakni Vihara Avalokitesvara di Pematang Siantar. Vihara ini menjadi istimewa karena memiliki patung Dewi Kwan Im tertinggi di Asia Tenggara.

Patung dengan tinggi 22,8 meter ini diimpor langsung dari China dan diresmikan pada 15 Nopember 2005. Patung Dewi Kwan Im di vihara ini terletak di lantai atas pada bangunan berlantai dua.

Sebelum masuk dan menaiki tangga, pengunjung akan disambut oleh dua patung yang terletak di dua sisi tangga yang merupakan patung catur mahadewa-raja, alias malaikat pencatat kebaikan dan keburukan. Keindahan patung Dewi kwan Im ini semakin cantik dengan adanya lampion-lampion menghiasi bagian depan bangunan.

Ternyata, Sumatra Utara tak sekedar Danau Toba, durian, maupun bika ambon saja. Sumatra Utara juga menyimpan keindahan multikultural serta keharmonisan agama yang patut dicontoh masyarakat.

Sunday, 18 October 2015

Menerawang Hutan Batu Karst Rammang-Rammang Terluas Dunia

Kampung Berua di tengah pegunungan karst, @innokribow
Pilar-pilar batu karst atau batu kapur menjulang seperti ditanam di antara kebun dan sawah-sawah yang padinya tengah menguning. Ribuan batu karst beraneka bentuk itu bak diukir sebagai sebuah mahakarya Sang Pencipta.

Panorama itu mengingatkan landskap serupa di Vietnam atau China. Ternyata, Indonesia memiliki pesona hutan batu karst yang jauh lebih unik dan menarik untuk dinikmati.

Hutan batu karst itu ada di Rammang-Rammang, itu berada di gugusan pegunungan kapur di Kabupaten Maros hingga Pangkep, Sulawesi Selatan. Tepatnya berada di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, yang berjarak sekitar 40 Kilometer dari Makassar.

Sejumlah literatur menyebutkan Pegunungan Karst di Maros-Pangkep itu merupakan terluas kedua dunia setelah China. Bahkan, ada pula yang menyebut terluas dan terbesar dunia karena pegunungan karst di China telah berkurang akibat eksploitasi dan penambangan.

Plang pintu masuk Kampung Berua @innokribow
Literatur lain menyebut taman Hutan Batu Kapur Rammang-Rammang ini hanya satu di Indonesia dan terluas ketiga di dunia, setelah yang pertama adalah Taman Hutan Batu Tsingy di Madagaskar dan yang kedua adalah Taman Hutan Batu Shilin yang ada di China.

Kawasan hutan batu karst Rammang-Rammang memang unik dan eksotik. Bebatuan berwarna hitam dan kelabu itu tersebar di areal seluas 43.750 hektare di dua kabupaten.


Rammang-Rammang, menjadi salah satu pintu masuk untuk menikmati kawasan hutan batu karst itu. Tampak gugusan pilar-pilar batu menjulang di areal persawahan penduduk sebelum memasuki Dusun Rammang-Rammang.

Arti kata Rammang-Rammang sendiri berasal dari bahasa daerah setempat yaitu Bahasa Makassar, di mana kata rammang yang bisa diartikan sebagai awan atau kabut.

Dapat disimpulkan, bahwa arti kata rammang-rammang adalah sekumpulan awan atau kabut. Menurut cerita penduduk setempat, tempat ini diberi nama Rammang-Rammang dikarenakan awan atau kabut yang selalu turun terutama di pagi hari atau ketika hujan.

Tak ada tanda-tanda hutan batu itu sebagai kawasan wisata. Jalanan berkelok di antara sawah yang hampir panen itu menuntun wisatawan untuk masuk ke dermaga kecil di bawah sebuah jembatan di Rammang-Rammang.

Menikmati pemandangan hutan batu di Rammang-Rammang dapat dilakukan dari dermaga kecil itu. Penduduk setempat menyediakan transportasi berupa perahu mini berkapasitas 5 orang untuk menelusuri sungai di antara bebatuan karst di Rammang-Rammang.
Perahu Ketinting alat transportasi khusus di Rammang Rammang @innokribow

Sungai Pute yang dangkal dan berair cukup jernih itu menjadi rute satu-satunya menuju sebuah kampung di tengah bukit kapur. Pengunjung dapat merogoh kocek sekitar Rp150.000-Rp200.000 per perahu untuk menuju Kampung Berua.

Saat menaiki perahu atau warga menyebutnya katinting, pemandangan di kiri dan kanan sungai ditumbuhi pohon lontar di sela-sela batu-batu karst yang menjulang. Kelokan air sungai yang memiliki kedalaman hingga 2 meter itu menambah suasana seru terutama saat katinting oleng.

Membutuhkan waktu sekitar 15 menit menyusuri Sungai Pute menaiki ketinting yang digerakkan oleh mesin berbahan bakar bensin. Menjelang tiba di Kampung Berua, air sungai seperti menembus goa batu karst yang gelap.

Batu-batu karst di goa Sungai Pute itu berbentuk lubang-lubang yang tersusun rapi. Unik, karena batu-batu itu berlekuk membentuk sebuah ruang untuk aliran air yang dapat dilalui menggunakan perahu katinting.

Keluar dari goa, katinting langsung berlabuh di dermaga kecil yang terbuat dari kayu. Dermaga itu merupakan akses sebuah kampung di tengah bukit kapur, Kampung Berua.

Kampung berpenduduk sekitar 15 kepala keluarga itu istimewa. Kampung ini ibarat sebuah mangkuk dengan dasar berupa persawahan dan kolam ikan sekaligus rumah-rumah panggung milik penduduk khas Suku Bugis-Makassar.

Rumah panggung bercat warna-warni sungguh kontras dengan hijaunya persawahan di sekitarnya. Ternak sapi milik penduduk yang digembalakan anak-anak Kampung Berua menambah susana pemandangan pedesaan yang asri.
Rumah panggung suku Bugis Makassar @innokribow

Semilir angin yang masuk di sela-sela bukit batu dengan suasana sunyi melengkapi damainya kampung ini. Sejumlah pengunjung tampak ikut beraktivitas dengan penduduk, sekedar membuka bekal makan siang di tepi sawah, maupun minum kopi khas Sulawesi Selatan di kedai yang dibuka oleh warga setempat.

Di Kampung Berua, juga terdapat goa batu karst dan sumber air yang keluar dari bebatuan. Wisatawan dapat menikmati segarnya air dari sumber air yang disebut 'berlian' tanpa perlu ragu.

Tidak hanya Kampung Berua, sejumlah objek wisata alam yang bisa ditemukan di Rammang-Rammang yakni Telaga Bidadari, Goa Bulu Barakka, Goa Telapak Tangan, Goa Pasaung, dan tentu saja hutan batu.

Usai berkeliling di Kampung Berua, Telaga Bidadari dapat menjadi pilihan berikutnya yang harus dikunjungi. Telaga ini biasa juga disebut dengan istilah Taman Bidadari.

Tak banyak yang mengetahui keberadaan Telaga Bidadari ini. Telaga ini berada tepat di tengah-tengah bukit kapur, yang mempunyai lubang besar tepat di tengahnya dan menjadi tempat berkumpulnya air sehingga membentuk sebuah telaga.

Air dari telaga ini berasal dari celah bebatuan kapur, dan hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki dengan melewati jalan setapak berupa pecahan-pecahan batu kapur di sepanjang jalan.

Objek wisata ini cukup berbahaya dan menantang karena pengunjung harus mendaki bukit kapur dan melewati cukup banyak jalan setapak yang berada di tepi jurang. Air yang jernih dan segar menjadikan telaga ini sebagai salah satu sumber mata air tawar bagi penduduk setempat.

Menurut cerita masyarakat setempat, tempat ini adalah tempat mandi para bidadari sehingga telaga ini pun disebut sebagai Telaga atau Taman Bidadari. Uniknya, air pada telaga ini akan surut pada musim hujan, dan air akan tinggi pada musim kering.
Batu Karst Rammang Rammang, kawasan terluas dunia @innokribow

Untuk menuju Rammang-Rammang dari Kota Makassar, alat transportasi yang bisa digunakan seperti kendaraan roda dua dan empat. Menyusuri jalan poros Maros-Pangkep, kemudian berhenti di belokan jalan masuk menuju pabrik Semen Bosowa. Dari sana, Dusun Rammang-Rammang hanya berjarak beberapa ratus meter.

Anda cukup menyewa perahu yang disewakan masyarakat sekitar, Anda sudah dapat menikmati keindahan alam destinasi Rammang-Rammang yang ada di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Sunday, 22 March 2015

Camping Ceria & Semedi di Puncak Munara Parung Bogor

Mengisi libur akhir pekan tak perlu mahal ataupun jauh dari Ibukota Jakarta. Di Puncak Munara, Parung, Bogor, Anda bisa camping ceria sekaligus bersemedi menikmati segarnya udara pegunungan.

Bagi warga Jakarta dan sekitarnya, pasti lelah menghadapi rutinitas pekerjaan, kemacetan, hingga udara polusi yang selalu dihirup saban hari. Akhir pekan, menjadi waktu yang tepat untuk melepas penat dengan berjalan-jalan di pegunungan.

Tak perlu jauh-jauh, di Parung Bogor, yang berjarak sekitar 1-2 jam dari Jakarta, Anda bisa mendapatkan segarnya udara pegunungan sembari berpetualang. Yup, tepatnya di situs wisata sejarah Puncak Munara, Kampung Sawah, Kecamatan Rumpin, Bogor Jawa Barat.

Di Puncak Munara, Anda dapat merasakan serunya mendaki gunung, tepatnya bukit batu, hingga ke puncaknya. Tak terlalu berat, karena di Puncak Munara juga dapat didaki oleh anak-anak dan remaja.

Tidak hanya mendaki, Anda juga dapat menikmati serunya berkemah bersama teman-teman ataupun keluarga kecil. Cukup aman, karena di Puncak Munara jika akhir pekan, banyak warga Jakarta dan sekitarnya yang juga berkemah di sini.

Seorang warga di sekitar Puncak Munara, Aem (60), menjelaskan, wisata Puncak Munara mulai ramai sejak beberapa tahun belakangan. Banyak anak-anak muda dari Bogor, Depok, Jakarta, dan Tangerang yang berkemah dan mendaki ke Puncak Munara.

"Kalau dulu di sini sering untuk semedi, mencari tirakat biar utang-utangnya lunas atau biar bisnisnya enggak bangkrut," ujarnya.

Di Puncak Munara, sambungnya, memang terdapat petilasan Sunan Kalijaga, goa tempat Presiden Soekarno bersemedi, hingga jejak tangan dan kaki si Kabayan. Namun, dia juga tidak mengerti sejarah adanya tokoh-tokoh besar di Puncak Munara tersebut.

Untuk mencapai Puncak Munara, rutenya mudah. Dari Jakarta Anda bisa melewati rute Ciputat hingga Parung. Tepat di Pasar Parung Bogor, terdapat jalur ke arah Kecamatan Rumpin hingga mencapai Puncak Munara.

Pengunjung juga hanya dikenakan Rp5.000 untuk masuk ke Puncak Munara. Parkir kendaraan juga tersedia dengan aman dan nyaman bagi para pengunjung.

Saturday, 7 March 2015

Wow, Indahnya Surga Ora Beach Resort Pulau Seram Maluku

Intip Foto Indah di Ora Beach Resort Maluku

Ora Beach Resort di Pulau Seram Maluku Tengah mulai sohor di kalangan turis nusantara setelah sebelumnya ramai menjadi perbincangan pelancong asing. Bagaimana indahnya Ora Beach Resort?

Tujuh kamar dan tiga rumah terapung siap memanjakan tidur Anda di Ora Beach. Enam rumah lainnya berada di pantai berpasir putih dengan deburan ombak serta jernihnya air laut bak kaca sehingga telihat ribuan ikan bermain di antara terumbu karang nan cantik.

Letak Ora Beach Resort tepatnya di Desa Saleman, Seram Utara Kabupaten Maluku Tengah. Pantai ini benar-benar layaknya "surga" tersembunyi karena lokasinya memang dikelilingi gunung dan tebing batu yang curam.

Penasaran? Berikut secuil foto keindahan Ora Beach Resort yang berhasil diabadikan. Foto diambil oleh saya, Sukirno, pada 27 Februari-1 Maret 2015.

1. Ora Beach Resort tampak dari ketinggian 
















2. Jernihnya air laut di Ora Beach Resort
















3.  Dermaga Ora Beach Resort dengan pantai berpasir putih















4. Bungalow tempat menginap berada di atas laut jernih
















5. Snorkeling langsung di teras bungalow
















6. Anda bisa memberi makan ribuan ikan di teras penginapan




Saturday, 8 February 2014

Patung Sigale-gale, Sebuah Tarian Kematian

Kunjungan wisata ke Danau Toba di Sumatra Utara, tak akan lengkap jika tidak menyaksikan atraksi budaya Patung Sigale-gale menari yang berlatar sejarah sekaligus mistis Batak Toba.

Atraksi Patung Sigale-gale menari bisa dijumpai di kawasan Tomok, Kabupaten Samosir, tepat di Pulau Samosir yang ada di tengah danau vulkanik terbesar di jagat raya.

Pertunjukkan tarian patung Sigale-gale tergolong langka. Jumlah patung ini juga terbilang sedikit karena terdapat kepercayaan tidak mudah dalam pembuatannya.

Masyarakat Batak Toba meyakini bahwa pembuat patung Sigale-gale harus menyerahkan jiwanya kepada boneka kayu buatannya agar patung itu bisa bergerak layaknya manusia hidup.

Beruntung pertunjukkan tarian mistis ini melekat dalam budaya Batak Toba dan tidak punah tergerus zaman. Hingga kini masih dapat dijumpai sejumlah patung yang dipahat puluhan tahun silam.

Di Samosir, tersiar kabar terdapat setidaknya empat lokasi yang menyajikan atraksi Patung Sigale-gale menari. Selain di Tomok, satu lokasi yang rutin menggelar atraksi ini yaitu Museum Hutabolon Simanindo.

Pertunjukkan Patung Sigale-gale menari dimainkan dengan iringan musikal Sordam dan Gondang Sabangunan. Biasanya ada sekitar tujuh macam cara musik ritual Batak untuk memainkan tarian patung Sigale-gale ini.

Atraksi tarian Sigale-gale, dilengkapi dengan 8-10 orang penari yang mengiringinya. Mereka akan menari tor-tor sesuai musik meskipun fokus utama tetap pada patung Sigale-gale.

Patung Sigale-gale yang terbuat dari kayu dan mengenakan pakaian adat Batak Toba lengkap dapat meliuk-liuk mengikuti alunan musik.

Boneka setinggi 1,5 meter itu bergerak dan menciptakan kesan seperti manusia hidup. Kepalanya bisa berputar ke samping kanan dan kiri, mata dan lidahnya dapat bergerakm kedua tangannya dapat menari tor-tor.

Patung ini juga dapat menurunkan badannya seperti saat manusia berjongkok saat sedang menari. Padahal, semua gerakan itu dilakukan di atas peti mati yang merupakan tempat penyimpanan boneka Sigale-gale setelah dimainkan.

Sigal-gale dimainkan oleh dua hingga tiga orang dalang yang ada dibelakangnya dengan menarik jalur-jalur tali secara anatomis. Konon, dulunya hanya butuh seorang dalang untuk memainkan patung ini.

Dahulu, menarikan Patung Sigale-gale tidak membutuhkan jalur tali untuk menggerakkannya. Patung ini dihidupkan oleh kekuatan gaib dalang yang disebut gana-ganaan.

Seorang dalang legendaris yang terkenal adalah Raja Gayus Rumoharbo dari kampung Garoga, Tomok. Dia pernah tampil pada festival Sigale-gale di Pematang Siantar sekitar tahun 1930-an.

Raja Gayus dikenal mampu membuat patung yang dibuatnya sendiri itu dapat mengeluarkan air mata dan bisa mengusap ulos ada dibahu Sigale-gale. Namun, hingga kini misteri teknik mengeluarkan air mata itu masih belum terkuak.

Patung yang dimainkan oleh Raja Gayus dikabarkan saat ini berada di Belanda. Satu boneka lagi disimpan di Museum Nasional Jakarta pada bagian khusus kebudayaan Batak.

Di kampung-kampung Samosir, cerita mistis pembuatan patung Sigale-gale masih lestari terutama di Garoga. Kampung yang berjarak sekitar 3 Kilometer itu sebenarnya tidak dapat dipastikan sebagai latar munculnya Sigale-gale.

Kapung Siallagan dan Ambarita juga memiliki kisah asal usul patung Sigale-gale. Kisah mistis dan seram dalam pembuatan patung ini juga santer terdengar.

Sang pematung dipercaya akan menjadi tumbal setelah menyelesaikan pembuatan Sigale-gale. Pematung atau dikenal dengan sebutan Datu Panggana diyakini akan meninggal.

Kemungkinan dengan adanya kepercayaan itu, pembuatan patung Sigale-gale menjadi sangat ekslusif dan tidak banyak. Kini pembuatan patung itu dikerjakan oleh lebih dari satu orang karena diyakini dapat menghindari tumbal.

Patung yang dibuat dari kayu ingul dan kayu nangka ini biasanya tidak boleh diletakkan di dalam rumah. Pembuat Sigale-gale akan menyimpan di tempat khusus di tengah persawahan yang disebut Sopo Balian.

Salah satu versi kisah patung fenomenal ini berawal dari seorang Raja bernama Tuan Rahat yang sangat bijaksana di Huta Samosir, Toba. Raja ini hanya memiliki seorang anak yang diberi nama Manggale.

Kala itu, di wilayah Sumatra masih sering terjadi peperangan antar kerajaan. Sang Raja menugaskan anak sematawayangnya untuk ikut berperang melawan musuh.

Nahas terjadi pada sang putra mahkota. Dia gugur di medan perang dan meninggalkan duka mendalam bagi Raja serta masyarakatnya.

Rajapun terpukul hatinya akibat kematian putranya itu. Tak pelak, raja jatuh sakit akibat begitu dalam rasa kehilangan yang dideritanya.

Melihat Sang Raja kian kritis, penasehat kerajaan memanggil 'orang pintar' untuk mengobati penyakit padukanya. Beberapa Datu atau dukun yang dipanggil mengatakan bahwa paduka sakit akibat memendam rindu pada putranya.

Salah satu Datu itupun mengusulkan kepada penasehat kerajaan agar dibuatkan patung kayu yang dipahat menyerupai wajah Manggale. Kemudian, saran itu dilakukan di sebuah hutan belantara.

Saat patung itu rampung dipahat, penasehat kerajaan menggelar upacara pengangkatan patung Manggale ke istana kerajaan. Datumenggelar upacara ritual dengan meniup Sordam dan memanggil roh sang putra mahkota.

"Kemudian roh Manggale dimasukkan ke dalam patung yang menyerupai jasadnya," begitu masyarakat setempat menceritakan kisah asal mula Patung Sigale-gale.

Patung Manggale diangkut dari pondok tempat dibuat patung ini di dalam hutan menuju ke istana dengan iringan suara Sordam dan Gondang Sabangunan.

Sordam dan Gondang Sabangunan merupakan alat musik yang dimainkan untuk memohon berkat dari roh para leluhur di Batak Toba.

Setibanya rombongan di istana, Sang Raja tiba-tiba pulih dari sakitnya. Kesembuhan raja akibat menyaksikan patung tersebut benar-benar mirip dengan wajah putra kesayangannya.

Patung tersebut kemudian dinamainya Sigale-gale. Sang Raja berpesan agar patung tersebut ditempatkan cukup jauh dari rumah yakni di Sopo Balian.

Nantinya, saat upacara kematian Manggale, patung itu dapat dijemput untuk menari di samping jenazah putra mahkota. Untuk itulah pertunjukkan Sigale-gale hanya disuguhkan kepada raja yang kehilangan keturunannya.

Akan tetapi, kebiasaan raja tersebut diperluas bagi setiap orang yang tidak memiliki keturunan. Siapapun yang sengaja memesan patung Sigale-gale untuk alasan tersebut dinamakan dengan Papurpur Sapata yang artinya menabur janji.

Ketika kematian sudah tak terelakkan, Sigale-gale dengan tariannya menjadi layaknya obat impian yang pernah kandas bagi orang-orang yang tidak mempunyai keturunan sampai pada upacara kematiannya.

Thursday, 30 January 2014

Inilah Destinasi Wisata Tsunami Aceh Part 6 : Monumen Aceh Thanks To..

6. Monumen Aceh Thanks to the World

Monumen Aceh Thanks to the World terletak di Blang Padang, tepat di depan Museum Tsunami Aceh. Monumen ini menjadi simbol syukur masyarakat Aceh kepada relawan, LSM, lembaga-lembaga negara, perusahaan, sipil, militer, baik nasional maupun internasional yang telah membantu Aceh pasca-tsunami.

Bangunan berwarna putih tersebut terletak di sebelah utara lapangan berbentuk seperti gelombang tsunami yang mengingatkan siapa saja yang melihatnya bahwa Aceh pernah dilanda bencana mahadahsyat gelombang tsunami.

Selain monumen, rakyat Aceh mengucapkan terima kasih mereka kepada negara-negara tersebut yang telah memberikan kontribusi untuk rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh melalui prasasti/plakat persahabatan.

Disepanjang jogging track yang mengelilingi lapangan Blang Padang sepanjang 1 Km, terdapat 53 “Plakat Thank You and Peace”. Plakat yang berbentuk kapal hampir tenggelam itu merupakan bentuk terima kasih masyarakat Aceh kepada 53 negara dan masyarakat dunia yang telah membantu Aceh pasca-tsunami.

Pada plakat tersebut tertulis nama negara, bendera negara, dan rasa syukur ekspresi ‘Terimakasih dan Damai’ dalam bahasa masing-masing negara. contohnya tugu kecil Republik Finlandia yang bertuliskan “Kiitos Rauha” yang artinya “Terima Kasih dan Damai”.

Pada awalnya lapangan Blang Padang seluas 8 Hektare itu tidak seperti sekarang ini. Dulunya lapangan ini hanya di gunakan bila ada upacara-upacara bendera yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Aceh. Namun, kini lapangan Blang Padang Banda Aceh telah berubah menjadi alun-alunnya kota Banda Aceh semenjak lapangan ini di renovasi pasca kerusakan akibat gempa dan tsunami Aceh.

Disisi yang lain terdapat pula benda yang bersejarah lainnya di lapangan ini. Sebuah replika pesawat Dakota RI-001 Seulawah.

Pesawat ini adalah pesawat pertama milik Republik Indonesia yang dibeli dari uang sumbangan rakyat Aceh kepada Pemerintah pada saat itu. Inilah cikal-bakal berdirinya perusahaan penerbangan niaga pertama di Indonesia yaitu, Indonesian Airways.

Sejarah mencatat di Hotel Kutaraja pada 16 Juni 1948, Presiden Soekarno yang saat itu sedang mencari dana untuk keperluan membeli pesawat Dakota berhasil membangkitkan nasionalisme dan patriotisme rakyat Aceh hingga akhirnya terkumpul sumbangan rakyat Aceh senilai 20 Kg emas.

Pesawat ini digunakan oleh Presiden Soekarno dalam tugas kenegaraan ke negara-negara lain untuk meminta pengakuan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada saat gelombang tsunami menerjang Banda Aceh 26 Desember 2004 silam, monumen ini tidak hancur oleh terjangan gelombang Tsunami.

Di Lapangan Blang Padang juga ada tugu peringatan tsunami. Tugu ini didirikan untuk mengenang hari bersejarah dalam hidup manusia yaitu bencana alam gempa dan tsunami yang terjadi di pesisir pantai Asia Pasifik.

Lapangan Blang Padang kini menjadi tempat umum yang terbuka untuk berolahraga dan relaksasi. Di lapangan ini terdapat jogging track, lapangan sepak bola, basket, dan pilar untuk melakukan fitness ringan.


Pada setiap akhir pekan, lapangan Blang Padang menjadi lokasi favorit keluarga Banda Aceh untuk dikunjungi. Selain sejuk dengan pepohonan, di lapangan ini juga terdapat areal wisata kuliner yang sayang untuk dilewatkan.

Inilah Destinasi Wisata Tsunami Aceh Part 5 : Kuburan Massal

5. Kuburan Massal

Gelombang tsunami yang menelan korban jiwa hingga mencapai 240.000 orang tidak hilang dari ingatan masyarakat Aceh. Di Bumi Rencong itu terdapat banyak kuburan massal untuk memakamkan para korban tsunami.

Salah satu kuburan massal yang paling banyak terdapat korban dimakamkan adalah di Ulee Lheue dan Siron, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar.

Korban yang dikuburkan di kuburan missal Ulee Lheue lebih dari 14.264 orang. Kuburan massal ini biasanya dipadati peziarah yang kehilangan sanak keluarganya saat bencana tsunami meyapu pesisir Aceh pada 26 Desember 2004 silam.

Kuburan massal Ulee Lheue dibangun seperti sebuah taman dengan rumput hijau dan pepohonan rindang. Kuburan massal ini dipagari tembok yang masih dapat dilihat dari luar areal.

Lokasi kuburan yang berada tepat di tepi jalan menuju Pelabuhan Ulee Lheue tepatnya di Jalan Pocut Baren Nomor 30, ini memang mudah dijangkau. Di depan areal juga terdapat prasasti yang bertuliskan kuburan massal.

Pada gerbang masuk kuburan massal berwarna hijau ini terdapat tulisan yang diambil dari salah satu surat dalam Al-Quran. Tulisan ini membuat bulu kuduk berdiri dan siapapun akan langsung merasakan kengerian bencana tsunami.

"Tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan," (Al-Anbiya : 35).

Selain di kuburan massal Ulee Lheue, terdapat juga beberapa kuburan massal lainnya antara lain kuburan massal Lhoknga, Aceh Besar dan kuburan massal Siron di Jalan Bandara Sultan Iskandar Muda.


Di kuburan massal Siron, menjadi areal pekuburan massal terbesar di Aceh. Tercatat hampir 50.000 korban tsunami dimakamkan di areal ini sehingga kuburan massal tersebut paling banyak dikunjungi peziarah.

Tuesday, 14 January 2014

Komunitas Medan Petualang : Jelajahi Keindahan Sumut Perkenalkan Pada Dunia



Kemunculan komunitas-komunitas penggila jalan-jalan di Indonesia beberapa waktu terakhir sepertinya juga terjadi di Ibukota Sumatra Utara, Medan. Komunitas berbasis hobi travelling ini mulai banyak muncul demi mengakomodir minat pencinta wisata baik yang berbiaya murah maupun mahal.

Adalah Komunitas Medan Petualang, sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai latar belakang anggotanya ini juga mulai menunjukkan taringnya. Komunitas ini berdiri secara resmi pada 14 Januari 2012.

Aulia Ramadhan Ray yang didapuk sebagai panglima, sebutan ketua di komunitas ini, mengisahkan awal terbentuknya Komunitas Medan Petualang kepada Bisnis.

Pada Oktober 2011, dia bersama Ilman, rekannya di kampus Universitas Negeri Medan (Unimed) ingin menggelar kegiatan untuk mengisi pergantian tahun.

Mereka berdua menginginkan untuk membuat event yang berbeda dari biasanya. Jika biasanya mereka mendaki gunung, kali ini tempat baru yang sangat jarang diekspos dan diketahui masyarakat menjadi tujuan untuk merayakan tahun baru 2012.

Pulau Berhala adalah tujuannya. Lokasi pulau yang tidak jauh dari Medan tepatnya di Kabupaten Serdang Bedagai ini merupakan pulau terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan Malaysia.

Saat itu, Pulau Berhala belum sesohor sekarang. Estimasi biaya kala itu juga masih sangat terjangkau bagi kalangan mahasiswa. Dia mengajak rekan-rekan mahasiswa yang tergabung dalam UKM Teater Unimed yang sama-sama memiliki hobi jalan-jalan. 

Gayung bersambut, sebanyak 16 orang akhirnya memutuskan untuk ikut menyeberangi lautan menuju Pulau Berhala. Tak satupun dari mereka yang pernah menginjakkan kaki di pulau yang hanya dihuni oleh Tentara penjaga perbatasan itu.

Tepat pada 29 Desember 2011 mereka berangkat dari Pantai Cermin sejak pukul 07:00 WIB. Mereka menggunakan jasa perahu nelayan berkapasitas 20 orang karena tidak ada kapal rutin untuk menuju ke pulau itu.

Berbekal riset dari internet, kalkulasi biaya awal sekitar Rp250.000-Rp300.000 per orang untuk 2 hari 1 malam. Untuk ukuran mahasiswa, biaya itu perlu ditabung agar mereka bisa memenuhinya.

Menyeberangi lautan Selat Malaka, kapal nelayan itu dipacu selama 5 jam. Sekitar tengah hari bolong, rombongan tiba di Pulau Berhala dan disambut oleh marinir TNI AL dengan menyerahkan surat izin dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Serdang Bedagai.

"Kami tidak ada membawa bekal makan siang, lalu kami membangun tenda dan masak. Itu pertama kalinya kami sampai di Pulau berhala menjelang tahun baru," ungkap Aulia.

Di Pulau Berhala, sambungnya, terdapat dua pulau lainnya yang berjarak tak jauh bahkan jika air laut tengah surut dapat dijangkau dengan berjalan kaki. 

Akibat begit antusiasnya mereka tiba di sebuah privat island, Aulia dan teman-temannya tidak melewatkan setiap sudut pulau nan indah itu. Mereka mengunjungi penangkaran penyu yang dikelola oleh marinir, melihat penyu-penyu bertelur dimalam hari, tracking keliling pulau, hingga snorkling melihat terumbu karang.

Mereka juga menaiki 700 anak tangga mercusuar untuk menyaksikan sekeliling pulau dari ketinggian. Jika cuaca tengah mendukung, pada malam hari tampak lampu-lampu berkedip-kedip di daratan Malaysia.

Kenyang dengan pengalaman baru di Pulau Berhala, mereka kembali ke Pulau Sumatra menumpang perahu yang sama. Perahu nelayan itu rela menunggu dengan tarif sewa Rp2 juta selama 2 hari. 

Saat perjalanan pulang, perahu dikayuh sejak pukul 11:00 WIB dari ulau itu. Mereka tidak lagi membawa persediaan logistik cukup banyak. Hanya persediaan makan seadanya untuk 16 orang itu.

Perjalanan yang seharusnya ditempuh dalam waktu 4 jam, ternyata setelah 3 jam mengarungi Selat Malaka mereka belum kunjung melihat daratan. Sang nelayan menguji arah perahu secara tradisional, ternyata baru sadar kompas yang digunakan telah rusak.

Akibatnya, hingga malam tiba mereka masih terkatung-katung di lautan. Hampir 12 jam mereka mengarungi lautan tanpa tau arah hingga akhirnya bertemu dengan nelayan lain dan dipandu untuk kembali ke arah Pantai Cermin.

Tengah malam mereka sampai di daratan Serdang Bedagai dan akhirnya memutuskan untuk menginap. Orang tua masing-masing cemas karena tidak kunjung mendapatkan kabar. Mereka tiba di Medan tepat pada 3 Januari 2012. 

Setelah perjalanan mendebarkan itu, masing-masing anggota berkomunikasi dan disepakati diadakan syukuran. Di sebuah rumah makan tepatnya Pasar Merah Square, Medan, mereka menggelar syukuran dari dana perjalanan yang masih tersisa.

"Disitu kami bicarakan ketimbang jalan-jalan enggak jelas, tercetuslah ide bikin komunitas. Nama Medan Petualang secara resmi kami sepakati pada 14 Januari 2012," kisahnya.

Hingga saat ini, Komunitas Medan Petualang telah memiliki anggota lebih dari 700 orang. Mereka rutin mengadakan trip murah meriah baik menggunakan sepeda motor maupun mobil ke lokasi-lokasi yang belum dikenal luas.

Komunitas yang terbuka bagi siapa saja ini berharap untuk memperkenalkan keindahan Sumatra Utara kepada dunia. Danau Linting, Kawah putih Tinggi Raja, Air Terjun Dua Warna, Tangkahan, hingga sisi lain Danau Toba, coba diperkenalkan melalui media sosial.

Anggotanya kini tak hanya mahasiswa Unimed, tetapi telah menyusup ke semua kalangan mulai dari pelajar, PNS, pegawai swasta, pengusaha, hingga pensiunan. Tak ada batasan usia untuk mengikuti komunitas ini.

Syarat untuk bergabung dengan Medan Petualang hanyalah hobi jalan-jalan. Dari hanya 16 orang itu, kini komunitas Medan Petualang menjadi salah satu komunitas yang besar di Medan.

"Awalnya hanya ingin memuaskan dahaga travelling karena Sumut memiliki objek wisata yang indah, tapi kini kami juga bisa membawa orang atau menjadi tour guide bagi yang ingin melihat sisi lain Sumut," paparnya.

Menurut dia, potensi pariwisata Sumut itu tidak kalah dengan Bali. Permasalahnnya, dari pengalaman trip bersama Medan Petualang, sarana dan prasarana objek wisata Sumut sangat memprihatinkan.

Selain infrastruktur jalan yang tragis, perhatian pemerintah setempat terhadap objek wisata juga dinilai masih sangat minim. Mereka belum mempromosikan destinasi wisata dengan maksimal termasuk kesadaran wisata masyarakatnya juga perlu ditingkatkan.

Tidak hanya itu, komunitas ini juga menggelar kegiatan-kegiatan sosial seperti saat Gunung Sinabung di Kabupaten Karo meletus pada September lalu. Komunitas Medan Petualang menggalang dana dari anggotanya untuk membantu masyarakat yang menjadi korban.

******

Nama Komunitas : Medan Petualang
Panglima : Aulia Ramadhan Ray
Sekretaris : Abdur Rahman
Bendahara : Anshari Siregar
Facebook : Grup Medan Petualang
Twitter : @Medan_Petualang
Kontak : 085261421110

*******

Friday, 10 January 2014

Inilah Destinasi Wisata Tsunami Aceh Part 4 : Masjid Raya Baiturrahman

Masjid Raya Baiturrahman mencatat lembaran sejarah yang begitu melekat bagi masyarakat Banda Aceh. Masjid yang berada tepat di jantung Kota Banda Aceh ini menjadi tempat berlindung ribuan orang saat tsunami menyapu kota.

Masjir Raya Baiturrahman dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada 1022 Hijriyah/1612 Masehi. Masjid ini kemudian terbakar habis pada saat agresi militer Belanda kedua pada April 1873.

Empat tahun setelah Masjid Raya Baiturrahman itu terbakar, pada pertengahan shafar 1294 H/Maret 1877 M, dengan mengulangi janji jenderal Van Sweiten, maka Gubernur Jenderal Van Lansberge menyatakan akan membangun kembali Masjid Raya Baiturrahman yang telah terbakar itu.

Pernyataan ini diumumkan setelah diadakan permusyawaratan dengan kepala-kepala Negeri sekitar Banda Aceh. Dimana disimpulkan bahwa pengaruh Masjid sangat besar kesannya bagi rakyat Aceh yang 100% beragama Islam.

Pada tahun 1992, dilakukan pembangunan dengan penambahan dua kubah dan lima menara. Selain itu, dilakukan perluasan halaman masjid sehingga total luas area masjid saat ini menjadi 16.070 meter persegi.

Saat gelombang tsunami setinggi 21 meter menghantam pesisir Banda Aceh pada 26 Desember 2004, masjid ini termasuk bangunan yang selamat, meskipun terjadi kerusakan di beberapa bagian masjid.


Upaya renovasi pasca-tsunami menelan dana sebesar Rp20 miliar. Dana tersebut berasal dari bantuan dunia internasional, antara lain Saudi Charity Campaign. Proses renovasi selesai pada 15 Januari 2008. Saat ini, Masjid Raya Baiturrahman menjadi pusat pengembangan aktivitas keislaman bagi masyarakat Banda Aceh. 

Monday, 6 January 2014

Inilah Destinasi Wisata Tsunami Aceh Part 3 : Kapal Apung Lampulo


Kapal nelayan ini menjadi bukti keganasan gelombang tsunami berikutnya. Kapal yang saat itu baru selesai diperbaiki terseret ombak sejauh 3 Km dan mendarat tepat di atas sebuah rumah milik penduduk di Gampong Lampulo, Banda Aceh.

Masyarakat Banda Aceh kemudian menyebutnya dengan kapal apung Lampulo. Kapal ini tercatat telah menyelamatkan nyawa 59 orang yang menumpang di atasnya dari hempasan dahsyat tsunami.

Dari informasi di lokasi yang kini menjadi objek wisata tsunami itu menyebutkan sebelum kejadian dahsyat tersebut, kapal kayu dengan panjang 25 meter dan lebar 5,5 meter ini baru selesai menjalani perbaikan di tempat docking kapal Lampulo.



Adun, sang penjaga kapal sebelumnya mendapat instruksi untuk menurunkan kapal tersebut ke sungai pada hari itu, 26 Desember 2004.

Teuku Zulfikar yang berdomisili di Medan mendapat kabar dari adiknya Hasri dan Saiful bahwa kapal itu rencananya akan dibawa ke Lhoknga untuk diisi pukat.

Sebelum rencana itu berjalan, tsunami telah terlebih dahulu menghanyutkan kapal berbobot 20 ton ini ke perumahan warga yang berjarak sekitar 3 Km dari tepi sungai.

Saat ini, Kapal yang mendapat julukan 'Kapal Nuh' dari masyarakat Aceh ini ramai dikunjungi wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Kebanyakan dari mereka ingin menyaksikan langsung bagaimana sebuah kapal yang menjadi saksi bisu dahsyatnya gelombang tsunami pada 2004 silam.



Pada sisi kapal terdapat penyangga yang terbuat dari besi untuk menahan kapal agar tetap berada pada posisinya dan di bagian atas kapal juga sudah diberi atap. Terdapat pula lahan parkir yang nyaman bagi pengunjung yang membawa kendaraan pribadi, selain itu juga sudah disediakan toilet umum yang dapat digunakan pengunjung secara gratis.