Powered By Blogger

Home

Friday, 8 November 2013

Berlibur di Sabang, Inilah 10 Lokasi Wajib Dikunjungi Part 4

4. Jernihnya Pantai Gapang di Sabang

Pantai ini tidak kalah indahnya dengan Pantai Iboih yang memang letaknya berdekatan hanya 4 Km. Pantai Gapang memiliki panorama yang mempesona dengan cotage-cotage disekitarnya dengan tarif Rp200.000-Rp500.000 per malam.

Pantai Gapang menjadi salah satu destinasi wisata bahari yang menjadi tujuan para pelancong domestik maupun internasional di Sabang. Pemandangan yang unik juga sering dijadikan Pantai Gapang sebagai lokasi berburu favorit para fotografer.

Memasuki Pantai Gapang, wisatawan langsung dihadapkan pada sebuah gapura selamat datang. Melangkah ke dalam, pengunjung bisa langsung merasakan ketenangan hati dengan pemandangan hijau asri pepohonan Gapang yang tumbuh subur di antara batu karang besar yang menjulang di sekitar perbukitan.

Air laut sejernih kristal akan terhampar dan menarik perhatian wisatawan untuk segera menceburkan diri. Di pantai ini terdapat sebuah dermaga kecil yang sangat cocok bagi wisatawan untuk mengabadikan keceriaan dalam bingkai foto.

Birunya laut sangat kontras dengan pasir putih dan hijaunya pepohonan di pantai. Di Gapang, wisatawan juga tentu bisa bersnorkling maupun menyelam melongok ribuan ikan dan terumbu karang.

Alat untuk diving atau snorkling bisa disewa dengan harga terjangkau di lokasi ini. Selain itu, pelancong juga bisa menyewa sepeda motor untuk berkeliling.

Tidak hanya itu, menikmati kuliner di restoran-restoran yang berada di bibir pantai juga menjadi pilihan menarik. Makan dan minum dengan pemandangan yang sangat indah akan menjadi pengalaman yang tak akan terlupakan.



Berlibur di Sabang, Inilah 10 Lokasi Wajib Dikunjungi Part-3

 3. Tugu Nol Kilometer, Penanda Ujung Barat Indonesia

Berjarak sekitar 8 Km dari Pantai Iboih, destinasi selanjutnya adalah Tugu Nol Kilometer. Wisatawan wajib mengunjungi tugu paling ujung Indonesia ini.

Penanda wilayah Indonesia di ujung barat ini terletak pada garis lintang 050 54’ 21.42” Lintang Utara, dan garis bujur 950 13’ 00.50” Bujur Timur. Berada di dalam areal Hutan Wisata Sabang di Ujung Ba`u, Kecamatan Sukakarya, Kota Sabang, kawasan ini cukup sepi.

Berhubung lokasinya di kawasan hutan wisata tidak mengherankan jika jalanan menuju tugu nol kilometer sangat sepi dan tentu saja banyak pepohonan. Kawanan monyet ada disekitar tugu, mereka sering usil mengambil barang-barang apapun milik pengunjung.

Di sekitar tugu, juga terdapat beberapa warung yang menawarkan makan maupun minuman pelepas dahaga. Mereka juga biasanya menawarkan jasa pembuatan sertifikat penanda telah menungjungi tugu Nol Kilometer.

Biasanya, mereka menawarkan harga Rp20.000-Rp25.000 per orang untuk pembuatan sertifikat dengan jasa antar ke penginapan. Namun, bila pengunjung ingin lebih murah, di Dinas Pariwisata Kota Sabang harga pembuatan sertifikat sesungguhnya hanya Rp10.000 per orang.

Tugu kilometer Nol adalah sebuah bangunan setinggi 22,5 meter dengan bentuk lingkaran berjeruji. Bagian tugu dicat putih dan bagian atas lingkaran menyempit seperti mata bor. Puncak tugu ini terdapat patung burung Garuda menggenggam angka nol dilengkapi prasasti marmer hitam yang menunjukkan posisi geografisnya.

Di lantai pertama monumen terdapat sebuah pilar bulat dan terdapat prasasti peresmian tugu yang ditandatangani Wakil Presiden Try Sutrisno, pada 9 September 1997.

Di lantai kedua terdapat sebuah beton bersegi empat dimana  tertempel dua prasasti yaitu prasasti pertama ditandatangani Menteri Riset dan Teknologi/Ketua BPP Teknologi BJ Habibie, pada 24 September 1997.

Dalam prasasti itu bertuliskan penetapan posisi geografis KM-0 Indonesia tersebut diukur pakar BPP Teknologi dengan menggunakan teknologi Global Positioning System (GPS). Sedangkan prasati kedua menjelaskan posisi geografis tempat ini.

Tugu Nol Kilometer Sabang sebenarnya tidak dipancangkan persis di garis terluar sisi barat wilayah Indonesia. Sebenarnya secara teknis, masih ada pulau di sisi paling barat Indonesia yaitu Pulau Lhee Blah, berupa pulau kecil di sebelah barat Pulau Breuh. Hal ini sama terjadi dengan pulau paling selatan yaitu Pulau Rote, walau secara teknis Pulau N’dana adalah pulau paling selatan di Indonesia.

Tugu Nol Kilometer di Sabang memiliki kembarannya yaitu di Merauke, Papua, tepatnya di Distrik Sota, Kabupaten Merauke, sekitar 75 kilometer dari pusat Kota Merauke dan 3 kilometer dari Tugu perbatasan dengan Negara Papua New Guinea.

Berlibur di Sabang, Inilah 10 Lokasi Wajib Dikunjungi Part-2

2. Eksotisnya Taman Bawah Laut Pulau Rubiah

Dahulu, Pulau Rubiah dijadikan tempat transit bagi calon jemaah haji asal Aceh yang hendak menuju Mekkah pada masa kerajaan Aceh. Pada saat Perang Dunia II, pulau ini menjadi benteng pertahanan pasukan Belanda dan Jepang. Hingga saat ini, reruntuhan benteng pertahanan masih dapat ditemui di Pulau Rubiah.

Pulau yang hanya berjarak 1 Km dari Pantai Iboih ini dikenal sebagai surga bawah laut. Di sekitar pulau ini layaknya akuairum raksasa yang diciptakan dengan sejuta pesonanya.

Bergabai macam ikan dan terumbu karang pantai tropis dapat dijumpai di sekitar pulau ini. Terumbu karang dengan bermacam warna membentuk gugusan indah yang tidak patut untuk dilewatkan begitu saja.

Untuk menuju pulau ini, wisatawan dapat menggunakan kapal nelayan atau perahu yang khusus disewakan oleh warga setempat. Perahu biasanya ada di Pantai Iboih dengan tarif sekitar Rp200.000-Rp300.000 per 10 orang penumpang.

Bagi wisatawan yang pandai berenang, snorkling menjadi pilihan bijak untuk menikmati indahnya bawah laut Pulau Rubiah. Persewaan peralatan biasanya ada di Pantai Iboih.

Disarankan bagi wisatawan untuk lebih dalam menikmati bawah laut Pulau Rubiah adalah dengan diving. Jasa diving biasanya juga tersedia di Iboih.

Akan tetapi, bagi wisatawan yang tidak mahir berenang dapat menyewa perahu yang dilengkapi dengan kaca untuk melihat indahnya bawah laut Pulau Rubiah.

Tidak hanya menjadi tujuan wisata, Pulau Rubiah juga dimanfaatkan sebagai tempat penelitian biota laut seperti terumbu karang dan ikan karang.


Berlibur di Sabang, Inilah 10 Lokasi Wajib Dikunjungi Part-1

Kota Sabang, Pulau Weh, Aceh, menjadi salah satu lokasi wisata favorit wisatawan domestik dan mancanegara. Pulau yang ada diujung barat Indonesia itu menawarkan wisata bahari yang mempesona dan sayang untuk dilewatkan. Berikut 10 lokasi wajib yang harus dikunjungi jika berlibur ke Sabang.

Pulau Weh atau yang lebih terkenal dengan nama Sabang terletak di barat laut Pulau Sumatra. Pulau ini dikelilingi oleh Selat Malaka di Utara, Samudera Hindia di Selatan, Selat Malaka di Timur dan Samudera Hindia di Barat.

Pulau dengan luas 156,3 kilometer persegi terdiri dari beberapa pulau kecil yang terbentuk sebagai akibat dari letusan gunung yaitu Pulau Weh (121 km2), Pulau Rubiah (0,357 km2), Pulau Seulako (0,055 km2), Pulau Klah (0,186 km2), dan Pulau Rondo (0,650 km2).

Pada jaman pemerintahan Hindia Belanda, dermaga Sabang telah menjadi pelabuhan penting sebagai pangkalan batubara untuk Angkatan Laut Kerajaan Belanda yang kemudian dikembangkan menjadi lalu lintas perdagangan barang.

Bisnis mencatat setidaknya ada 10 lokasi yang wajib dikunjungi apabila berlibur di Sabang. Urutan yang dibuat merupakan rute dengan jadwal dan jangkauan dengan perkiraan waktu berlibur minimum 3 hari 2 malam.

Setiba di Pelabuhan Balohan, Sabang, diperkirakan maksimum tengah hari. Jika menggunakan kendaraan pribadi, bisa langsung meluncur ke Pantai Iboih. Namun, jika tidak membawa kendaraan, bisa menyewa mobil dengan tarif Rp400.000 atau sepeda motor dengan tarif Rp100.000 per hari dengan perhitungan 12 jam.

1. Pantai Iboih Nan Mempesona

Pantai Iboih terletak di Desa Iboih, Kecamatan Sukakarya, atau 23 kilometer dari Pusat Kota Sabang dan dapat ditempuh menggunakan taksi carteran selama 40 menit dari Pelabuhan Balohan. Pantai berpasir putih dengan air yang sangat jernih ini sangat cantik. Kontras dengan birunya langit dan hijaunya pepohonan di bibir pantai serta pemandangan Pulau Rubiah di seberangnya.

Bungalow-bungalow yang didesain berupa rumah panggung di atas tebing karang menjorok ke laut membuat wisatawan betah berlama-lama meski hanya sekedar bengong di depan kamar. Semilir angin laut yang tak begitu kencang dan debur ombak pantai layaknya harmoni alam yang menyejukkan hati dan pikiran.

Untuk menginap, disarankan di pantai ini. Sebab, bungalow-bungalow yang ada di Iboih cukup bersahabat dengan kantong. Bungalow disewakan dengan tarif Rp100.000 hingga jutaan rupiah.

Jangan terlena! masih ada surga dibalik surga Pantai Iboih. Surga yang lebih indah justru ada di bawah laut Pantai Iboih. Ya, tak sempurna bila berlibur ke Pantai Iboih tanpa mengintip indahnya kehidupan bawah laut di pantai ini. Ikan, terumbu karang, penyu, dapat dilihat hanya beberapa meter dari bibir pantai.

Wisatawan tentu tau cara mengintip surga di bawah laut yang terdapat sekitar 580 spesies ikan ini. Caranya dengan Snorkling dan diving.

Bagi yang memiliki budget minim, mengintip bawah laut Pantai Iboh bisa dengan snorkling. Banyak yang menawarkan perlengkapan snorkling dengan harga yang terjangkau.

Untuk menyewa alat snorkling cukup merogoh kocek Rp40.000 per orang dan peralatan yang dapat digunakan yakni pelampung, masker snorkling dan fin atau kaki katak. Asyiknya, peralatan itu bisa dipakai seharian penuh.

Titik terumbu karang yang indah dan dapat dijangkau dengan snorkling hanya sekitar 5 meter dari bibir pantai Iboih hingga Pulau Rubiah yang berjarak 350 meter. Namun, bila hari beranjak petang disarankan tidak jauh ke tengah laut karena arus air laut mulai deras.

Tak perlu khawatir, jika arus mulai deras, snorkling tetap dapat dilakukan dengan menyusuri bibir pantai berkarang ke arah utara pantai. Terumbu karang berwarna-warni dengan ribuan ikan yang bergerak lincah di dalam jernihnya air bisa membuat lupa waktu.

Bila ingin menikmati alam bawah laut lebih leluasa, menyelam atau diving adalah pilihan yang tepat. Tarif untuk menyewa peralatan diving sekaligus didampingi oleh guide dipatok Rp400.000 per orang atau 25 Euro bagi turis asing.

Tarif tersebut berlaku bagi wisatawan yang belum memiliki sertifikat diving dan harus mendapatkan kursus singkat selama 20 menit tentang cara-cara diving yang benar dan aman dari instruktur.

Bagi wisatawan yang belum memiliki sertifikat diving, kedalaman maksimal yang dapat diselami hanya 10 meter dengan spot yang terbatas. Namun, penyelam pemula dipastikan akan puas menikmati indahnya terumbu karang selama 3 jam.

Sementara itu, wisatawan yang sudah bersertifikat diving dapat menikmati sekitar 20 spot diving yang memukau. Salah satu titik penyelaman yang bisa diselami adalah Titik Nol Kilometer atau yang biasa disebut Wall. Ini adalah dive spot yang sering jadi perbincangan di kalangan wisatawan.

Kemudian ada spot diving the Canyon terletak di sisi ujung Pantai Iboih. Hanya dapat diselami oleh penyelam bersertifikat. Di spot ini arus cukup deras. Namun, pemandangan bawah lautnya luar biasa tiada duanya di bawah kedalaman hingga 30 meter.

The Garden, adalah salah satu spot diving favorit bagi pemula. Di sini layaknya di sebuah taman, ikan dan terumbu karang berwarna-warni. Arus di spot the Garden juga lebih bersahabat. Ikan-ikan di film Finding Nemo semua tampak ceria dan benar-benar seperti dalam dunia dongeng.

Seperti yang diungkapkan oleh warga setempat, "Santai Bang, ini Sabang..!!". Rasanya surga itu ada di Ujung Barat Indonesia. Yuk, ke Sabang?



Wednesday, 6 November 2013

Wisata Budaya : Rumah Adat Karo Siwaluh Jabu di Kaki Gunung Sinabung


Seorang Nenek tengah beraktivitas di belakang Rumah Adat Siwaluh Jabu, Desa Dokan, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Sumut. Selasa (5/11/2013). Rumah ini diperkirakan telah berusia ratusan tahun
 Keanekaragaman budaya Indonesia memang tidak ada habisnya untuk dikagumi dan dipelajari. Keanekaragaman suku bangsa dan bahasa dapat dilihat dari hasil-hasil budaya yang memiliki ciri khas masing-masing dan telah menjadi identitas budaya yang mampu dipertahankan hingga kini.

Seperti suku-suku lainnya yang memiliki rumah adat, di Suku Karo yang terdapat di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, juga terdapat rumah adat, dimana rumah adat Karo bernama Rumah Siwaluh Jabu.

Rumah Adat Karo sangat terkenal akan keindahan seni arsitekturnya yang khas, gagah dan kokoh dihiasi dengan ornamen-ornamennya yang kaya akan nilai-nilai filosofis.

Bentuk, fungsi dan makna Rumah Adat Karo menggambarkan hubungan yang erat antara masyarakat Karo dengan sesamanya dan antara manusia dengan alam lingkungannya.

Pemilihan bahan untuk membangun Rumah Adat Karo serta proses pembangunannya yang tanpa menggunakan paku besi atau pengikat kawat, melainkan menggunakan pasak dan tali ijuk semakin menambah keunikan Rumah Adat Karo.

Keberadaan Rumah Adat Karo juga tak terlepas dari pembentukan Kuta (kampung) di Tanah Karo yang berawal dari Barung, kemudian menjadi Talun, dan menjadi Kuta dan di dalam Kuta yang besar terdapat Kesain.
Anak-anak Desa Dokan, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, tengah bermain dihalaman depan Rumah Adat Siwaluh Jabu, Selasa (5/11/2013). Rumah adat Karo semakin jarang ditemui di Kabupaten Karo

Pada sebuah Barung biasanya hanya terdapat sebuah rumah sederhana, ketika sebuah Barung berkembang dan sudah terdapat 3 rumah di dalamnya disebut dengan Talun dan bila telah terdapat lebih dari 5 Rumah Adat disebut sebagai Kuta.

Ketika Kuta sudah berkembang lebih pesat dan lebih besar maka Kuta dibagi atas beberapa Kesain (halaman/pekarangan), disesuaikan dengan merga-merga yang pertama manteki (mendirikan) Kuta tersebut.
 
Pembangunan Rumah Adat Karo tidak terlepas dari jiwa masyarakat Karo yang tak lepas dari sifat kekeluargaan dan gotong-royong. Rumah Adat menggambarkan kebesaran suatu Kuta (kampung). Sebab, dalam pembangunan sebuah Rumah Adat membutuhkan tenaga yang besar dan memakan waktu yang cukup lama.

Oleh karena itu pembangunan Rumah Adat dilakukan secara bertahap dan gotong royong yang tak lepas dari unsur kekeluargaan. Kegiatan gotong-royong ini terutama digerakkan oleh Sangkep Sitelu (sukut, kalimbubu dan anak beru) yang dibantu oleh Anak Kuta (masyarakat kampung setempat).

Hal ini tidak terlepas dari sistem pemerintahan sebuah Kuta menggambarkan struktur sosial dan tatanan organisasi yang tinggi pada masyarakat Karo, yang terdiri dari pihak Simantek Kuta (pendiri kampung), Ginemgem (masyarakat yang memiliki hubungan kekeluargaan dengan Simantek Kuta) dan Rayat Derip (penduduk biasa).

Rumah adat ini disebut dengan rumah Siwaluh Jabu karena di dalam rumah adat Karo memiliki delapan ruang dan ditempati oleh delapan keluarga atau Jabu yang berada dalam satu rumah. Namun, terkadang ada juga rumah adat yang terdiri dari empat ruang maupun enam belas ruang.

Di dalam rumah Siwaluh jabu memiliki ciri khas yang unik. Keunikan di dalam rumah Siwaluh Jabu bisa dilihat dari atap bangunan yang ditandai dengan hiasan kepala kerbau lengkap dengan tanduk-tanduknya pada setiap sisi ujung-ujung atap rumah.
Boru Sembiring duduk di pintu rumah Siwaluh Jabu miliknya, Selasa (5/11/2013). Di rumah ini dihuni oleh 8 kepala keluarga secara turun temurun

Adanya kepala kerbau dan tanduk-tanduk kerbau ini mempunyai makna tersendiri yaitu sebagai lambang kesuksesaan pemilik rumah ataupun sebagai penangkal marabahaya.

Dalam Rumah Siwaluh Jabu, ketentuan adat juga berlaku seperti dalam proses pendirian rumah adat tersebut sampai kehidupan di dalam rumah, dan juga penempatan ruang atau jabu juga diatur oleh ketentuan adat.

Selain itu pendirian suatu rumah adat Karo atau Rumah Siwaluh Jabu, harus ditentukan berdasarkan arah hilir (Kejahe) dan hulu (Kejulu) sesuai dengan aliran air sungai yang terdapat di suatu kampung yang mendirikan rumah adat tersebut.

Salah satu desa yang masih memiliki Rumah Adat Karo adalah Desa Dokan, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo. Selain di Dokan, ada juga di Desa Lingga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo yang semuanya berada tidak jauh dari Gunung Sinabung.

Boru Sembiring, nenek berusia 83 tahun ini menghuni salah satu rumah adat yang ada di Desa Dokan. Dia bahkan tidak mengetahui tepat berdirinya rumah yang telah didiami secara turun temurun itu.

Dia mengaku dilahirkan di Siwaluh Jabu milik keluarganya itu. Sejak saat itu, rumah peninggalan nenek moyangnya hampir belum pernah direnovasi total. Hanya ada renovasi akibat kebocoran atap dan penggantian lantai kayu.

Siwaluh Jabuh yang didiami Boru Sembiring bernama Rumah Mbelin. Di Desa Dokan pada awalnya terdapat sekitar 15 Siwaluh Jabu. Namun, kini hanya tersisa sekitar 5 Rumah Adat Karo yang tetap bertahan dimakan usia.

"Saya lahir di sini, sekarang saya berusia 83 tahun, rumah ini sudah lebih dari itu umurnya. Pembuatan rumah ini tanpa ada paku dan baja, semua dari kayu dan tali," ungkapnya dengan bahasa Karo.

Di dalam rumah itu, ada 8 keluarga dengan 4 dapur yang saling berhadapan. Tidak ada ruangan khusus untuk memisahkan keluarga-keluarga itu. Mereka hanya dipisahkan oleh tirai kain yang bahkan pada zaman dahulu tidak pernah menggunakan tirai.

Suami Sembiring telah meninggal beberapa tahun silam. Dia memiliki 3 orang anak dan 13 cucu yang kesemuanya mendiami Rumah Siwaluh Jabu. Tak jarang orang bule meneliti rumah adat tersebut untuk keperluan ilmiah.

"Sejak dulu sampai sekarang, rumah ini tidak pernah roboh karena gempa bumi karena semuanya menggunakan unsur kayu. Banyak yang penelitian di sini, mereka mau belajar bagaimana cara membuat rumah Siwaluh Jabu," paparnya.

Desa Budaya Dokan terletak di Kecamatan Merek, Kabupaten Karo. Berjarak 98 Km dari Medan dan 14 Kilometer dari Kabanjahe, ibukota Kabupaten Karo. Desa ini dihuni oleh 385 kepala keluarga dengan 1.487 jiwa.

Rumah Adat Karo yang masih aktif digunakan di Desa Dokan antara lain Rumah Mbaru, Rumah Tengah, Rumah Sendi, Rumah Mbelin, dan Rumah Ketek. Material untuk membuat rumah ini hanya menggunakan kayu pengkih, ijuk, dan buluh belangkai.

Boru Sembiring menjelaskan sejarah rumah Siwaluh Jabu kepada pengunjung di dalam rumahnya, Selasa (5/11/2013). Dia dengan ramah akan menjelaskan bagian-bagian Siwaluh Jabu menggunakan bahasa Karo.

Tuesday, 22 October 2013

Bunga Bangkai Raksasa Mekar di Tepi Air Terjun Tarunggang


Bunga bangkai raksasa atau Titan Arum yang dalam bahasa ilmiah disebut Amorphophallus Titanum mekar di tepi air terjun Tarunggang, Tiga Juhar, Kecamatan STM Hulu, Deli Serdang, Sumatra Utara.

Bunga yang berasal dari Sumatra ini ditemukan oleh sekelompok orang dari komunitas Medan Petualang yang hendak menikmati keindahan Air Terjun Tarunggang. Mereka antusias karena baru pertama kalinya melihat bunga bangkai raksasa tersebut.

Ria Handayani, seorang anggota Komunitas Medan Petualang menuturkan keterkejutannya karena baru pertama melihat bunga yang sangat besar. Namun, dia juga kagum karena di lokasi tepi sungai yang tak jauh dari air terjun telah tumbuh bunga yang fenomenal itu.

"Keren sekali ada bunga bangkai raksasa, saya baru pertama kali melihatnya," ujarnya kepada Bisnis, Senin (21/10/2013).

Dia bersama rekan-rekannya tak mau kehilangan momentum untuk mengabadikan bunga bangkai raksasa itu. Meski untuk melihat bunga bangkai tersebut harus menuruni tebing curam di tepi sungai.

Bunga ini memiliki kelopak berwarna merah dengan putik berwarna putih kekuningan. Tinggi bunga ini sekitar 1,5 meter dan biasanya bisa tumbuh hingga 3,17 meter. Bunga bangkai raksasa ini akan mekar selama 24-48 jam kemudian segera layu.

Bunga bangkai raksasa dikenal karena bau busuknya yang menyengat terutama ketika  mekar penuh pada malam hari sampai dini hari. Kelopak bunga bangkai yang terbuka lebar akan menghasilkan hawa panas yang membuat baunya tersebar lebih jauh lagi. Kombinasi hawa panas dan baunya sangat memikat kumbang-kumbang besar dan kecil dari tempat-tempat lain.

Bunga bangkai merupakan tumbuhan khas dataran rendah yang tumbuh di daerah beriklim tropis dan subtropis mulai dari kawasan Afrika barat hingga ke Kepulauan Pasifik termasuk di Indonesia. Sebagian besar, bunga bangkai merupakan spesies endemik.

Bunga bangkai yang merupakan tumbuhan dengan bunga majemuk terbesar dan tertinggi di dunia ini termasuk tanaman dari suku talas-talasan (araceae) dengan bentuk dan ukuran umbi yang bervariasi pada setiap jenisnya.

Jenis yang paling dikenal dari bunga bangkai (Amorphophallus) adalah bunga bangkai raksasa atau suweg raksasa atau titan arum yang mempunyai nama latin Amorphophallus titanum dan Amorphophallus gigas atau Sumatera Giant Amorphophallus.

Bunga bangkai ini berasal dari Sumatra, pertama kali ditemukan pada tahun 1878 oleh Odoardo Baccari seorang pakar botani berkebangsaan Italia bersama rekannya Prof Giovanni dari Turki yang memberinya nama Latin Amorphophallus Titanum. Sejak itu bunga bangkai raksasa dikenal dunia.

Saturday, 19 October 2013

Terpesona Oleh Cantiknya Air Terjun Dua Warna


Sumatra Utara layaknya surga bagi penikmat petualangan dan keindahan alam yang masih belum banyak terjamah tangan-tangan jahil manusia. Keindahan alam di Sumut dapat membuat siapapun terpesona oleh kecantikannya.

Tengoklah Pulau Berhala, Pulau Mursala, Air Terjun Sipiso-piso, Danau Toba, dan ratusan lokasi wisata lain yang tersebar di seluruh wilayah Sumut.

Salah satu keindahan yang tersembunyi di Sumut adalah Air Terjun Dua Warna atau dikenal Air Terjun Telaga Biru Sibolangit. Air terjun dengan tinggi lebih dari 75 meter itu terletak di ketinggian 1.475 Mdpl.

Mengalir dari hulu sungai Sinembah 1 dan terbentuk dari letusan Gunung Sibayak ratusan tahun silam, membuat air terjun ini tampak eksotis dibandingkan dengan pemandangan serupa.

Disebut dua warna karena di dalam satu lokasi terdapat dua air terjun yang berbeda warna. Satu air terjun berwarna biru kehijauan sedangkan air terjun lainnya berwarna putih jernih.

Kedua air terjun tersebut saling berhadapan dengan suhu yang berbeda pula. Namun, yang paling mempesona adalah air terjun berwarna biru kehijauan dengan kandungan belerang yang keluar dari dinding-dinding bebatuan.

Air terjun yang berwarna biru indah memiliki suhu sangat dingin berhias tebing-tebing berlumut. Jatuhnya air membentuk kolam yang menggenang cukup luas dan menegaskan warna kebiruannya akibat aliran kandungan belerang.

Uniknya meskipun mengandung air belerang, air terjun yang telah sohor beberapa tahun terakhir ini tidak tercium bau belerang sama sekali. Tapi jangan sekali-kali mencoba untuk meminum airnya karena dikhawatirkan berbahaya.

Informasi yang beredar di masyarakat setempat, air terjun itu dinamakan dua warna karena saat air jatuh dari ketinggian tampak berwarna putih kelabu. Namun, ketika air itu telah tergenang berubah warna menjadi biru kehijauan.

Akan tetapi, di sekitar air terjun terdapat beberapa masyarakat yang berjualan kopi, mi instan, maupun makanan ringan lain, mengakibatan keindahan air terjun ini sedikit ternoda.

Untuk menikmati air tejun ini, wisatawan dapat menggunakan kendaraan umum ataupun pribadi dari Medan menuju Berastagi. Berjarak sekitar 57 Km atau ditempuh sekitar 1 jam perjalan tepatnya di Bumi Perkemahan Pramuka Sibolangit, Desa Durin Sirugun, Kabupaten Deli Serdang.

Jika membawa kendaraan pribadi, bisa dititipkan di posko ranger sekaligus membayar retribusi menuju air terjun Rp22.500/orang. Dari posko ranger, wisatawan akan dipandu oleh seorang 'guide' untuk tracking menembus hutan tropis yang masih perawan.

Tracking di hutan tropis membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam. Wisatawan dapat menikmati segarnya udara hutan tropis dengan pepohonan yang rimbun dan lembab serta aliran sungai berbatu dengan air yang sangat jernih.

Bila ingin berkemah, di hutan ini juga terdapat shelter atau kawasan disela-sela pepohonan yang memang diperuntukkan bagi lokasi camping. Tak perlu khawatir, jika di akhir pekan, banyak pencinta alam dan wisatawan yang camping di shelter tersebut.

Setibanya di air terjun, segala kepenatan dalam perjalanan menembus hutan tropis punggung Gunung Sibayak akan terbayar. Siapapun akan terpesona oleh kecantikan panorama air terjun dan keindahan alam di sekitarnya. Wonderful Indonesia.