Powered By Blogger

Home

Wednesday, 6 November 2013

Wisata Budaya : Rumah Adat Karo Siwaluh Jabu di Kaki Gunung Sinabung


Seorang Nenek tengah beraktivitas di belakang Rumah Adat Siwaluh Jabu, Desa Dokan, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Sumut. Selasa (5/11/2013). Rumah ini diperkirakan telah berusia ratusan tahun
 Keanekaragaman budaya Indonesia memang tidak ada habisnya untuk dikagumi dan dipelajari. Keanekaragaman suku bangsa dan bahasa dapat dilihat dari hasil-hasil budaya yang memiliki ciri khas masing-masing dan telah menjadi identitas budaya yang mampu dipertahankan hingga kini.

Seperti suku-suku lainnya yang memiliki rumah adat, di Suku Karo yang terdapat di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, juga terdapat rumah adat, dimana rumah adat Karo bernama Rumah Siwaluh Jabu.

Rumah Adat Karo sangat terkenal akan keindahan seni arsitekturnya yang khas, gagah dan kokoh dihiasi dengan ornamen-ornamennya yang kaya akan nilai-nilai filosofis.

Bentuk, fungsi dan makna Rumah Adat Karo menggambarkan hubungan yang erat antara masyarakat Karo dengan sesamanya dan antara manusia dengan alam lingkungannya.

Pemilihan bahan untuk membangun Rumah Adat Karo serta proses pembangunannya yang tanpa menggunakan paku besi atau pengikat kawat, melainkan menggunakan pasak dan tali ijuk semakin menambah keunikan Rumah Adat Karo.

Keberadaan Rumah Adat Karo juga tak terlepas dari pembentukan Kuta (kampung) di Tanah Karo yang berawal dari Barung, kemudian menjadi Talun, dan menjadi Kuta dan di dalam Kuta yang besar terdapat Kesain.
Anak-anak Desa Dokan, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, tengah bermain dihalaman depan Rumah Adat Siwaluh Jabu, Selasa (5/11/2013). Rumah adat Karo semakin jarang ditemui di Kabupaten Karo

Pada sebuah Barung biasanya hanya terdapat sebuah rumah sederhana, ketika sebuah Barung berkembang dan sudah terdapat 3 rumah di dalamnya disebut dengan Talun dan bila telah terdapat lebih dari 5 Rumah Adat disebut sebagai Kuta.

Ketika Kuta sudah berkembang lebih pesat dan lebih besar maka Kuta dibagi atas beberapa Kesain (halaman/pekarangan), disesuaikan dengan merga-merga yang pertama manteki (mendirikan) Kuta tersebut.
 
Pembangunan Rumah Adat Karo tidak terlepas dari jiwa masyarakat Karo yang tak lepas dari sifat kekeluargaan dan gotong-royong. Rumah Adat menggambarkan kebesaran suatu Kuta (kampung). Sebab, dalam pembangunan sebuah Rumah Adat membutuhkan tenaga yang besar dan memakan waktu yang cukup lama.

Oleh karena itu pembangunan Rumah Adat dilakukan secara bertahap dan gotong royong yang tak lepas dari unsur kekeluargaan. Kegiatan gotong-royong ini terutama digerakkan oleh Sangkep Sitelu (sukut, kalimbubu dan anak beru) yang dibantu oleh Anak Kuta (masyarakat kampung setempat).

Hal ini tidak terlepas dari sistem pemerintahan sebuah Kuta menggambarkan struktur sosial dan tatanan organisasi yang tinggi pada masyarakat Karo, yang terdiri dari pihak Simantek Kuta (pendiri kampung), Ginemgem (masyarakat yang memiliki hubungan kekeluargaan dengan Simantek Kuta) dan Rayat Derip (penduduk biasa).

Rumah adat ini disebut dengan rumah Siwaluh Jabu karena di dalam rumah adat Karo memiliki delapan ruang dan ditempati oleh delapan keluarga atau Jabu yang berada dalam satu rumah. Namun, terkadang ada juga rumah adat yang terdiri dari empat ruang maupun enam belas ruang.

Di dalam rumah Siwaluh jabu memiliki ciri khas yang unik. Keunikan di dalam rumah Siwaluh Jabu bisa dilihat dari atap bangunan yang ditandai dengan hiasan kepala kerbau lengkap dengan tanduk-tanduknya pada setiap sisi ujung-ujung atap rumah.
Boru Sembiring duduk di pintu rumah Siwaluh Jabu miliknya, Selasa (5/11/2013). Di rumah ini dihuni oleh 8 kepala keluarga secara turun temurun

Adanya kepala kerbau dan tanduk-tanduk kerbau ini mempunyai makna tersendiri yaitu sebagai lambang kesuksesaan pemilik rumah ataupun sebagai penangkal marabahaya.

Dalam Rumah Siwaluh Jabu, ketentuan adat juga berlaku seperti dalam proses pendirian rumah adat tersebut sampai kehidupan di dalam rumah, dan juga penempatan ruang atau jabu juga diatur oleh ketentuan adat.

Selain itu pendirian suatu rumah adat Karo atau Rumah Siwaluh Jabu, harus ditentukan berdasarkan arah hilir (Kejahe) dan hulu (Kejulu) sesuai dengan aliran air sungai yang terdapat di suatu kampung yang mendirikan rumah adat tersebut.

Salah satu desa yang masih memiliki Rumah Adat Karo adalah Desa Dokan, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo. Selain di Dokan, ada juga di Desa Lingga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo yang semuanya berada tidak jauh dari Gunung Sinabung.

Boru Sembiring, nenek berusia 83 tahun ini menghuni salah satu rumah adat yang ada di Desa Dokan. Dia bahkan tidak mengetahui tepat berdirinya rumah yang telah didiami secara turun temurun itu.

Dia mengaku dilahirkan di Siwaluh Jabu milik keluarganya itu. Sejak saat itu, rumah peninggalan nenek moyangnya hampir belum pernah direnovasi total. Hanya ada renovasi akibat kebocoran atap dan penggantian lantai kayu.

Siwaluh Jabuh yang didiami Boru Sembiring bernama Rumah Mbelin. Di Desa Dokan pada awalnya terdapat sekitar 15 Siwaluh Jabu. Namun, kini hanya tersisa sekitar 5 Rumah Adat Karo yang tetap bertahan dimakan usia.

"Saya lahir di sini, sekarang saya berusia 83 tahun, rumah ini sudah lebih dari itu umurnya. Pembuatan rumah ini tanpa ada paku dan baja, semua dari kayu dan tali," ungkapnya dengan bahasa Karo.

Di dalam rumah itu, ada 8 keluarga dengan 4 dapur yang saling berhadapan. Tidak ada ruangan khusus untuk memisahkan keluarga-keluarga itu. Mereka hanya dipisahkan oleh tirai kain yang bahkan pada zaman dahulu tidak pernah menggunakan tirai.

Suami Sembiring telah meninggal beberapa tahun silam. Dia memiliki 3 orang anak dan 13 cucu yang kesemuanya mendiami Rumah Siwaluh Jabu. Tak jarang orang bule meneliti rumah adat tersebut untuk keperluan ilmiah.

"Sejak dulu sampai sekarang, rumah ini tidak pernah roboh karena gempa bumi karena semuanya menggunakan unsur kayu. Banyak yang penelitian di sini, mereka mau belajar bagaimana cara membuat rumah Siwaluh Jabu," paparnya.

Desa Budaya Dokan terletak di Kecamatan Merek, Kabupaten Karo. Berjarak 98 Km dari Medan dan 14 Kilometer dari Kabanjahe, ibukota Kabupaten Karo. Desa ini dihuni oleh 385 kepala keluarga dengan 1.487 jiwa.

Rumah Adat Karo yang masih aktif digunakan di Desa Dokan antara lain Rumah Mbaru, Rumah Tengah, Rumah Sendi, Rumah Mbelin, dan Rumah Ketek. Material untuk membuat rumah ini hanya menggunakan kayu pengkih, ijuk, dan buluh belangkai.

Boru Sembiring menjelaskan sejarah rumah Siwaluh Jabu kepada pengunjung di dalam rumahnya, Selasa (5/11/2013). Dia dengan ramah akan menjelaskan bagian-bagian Siwaluh Jabu menggunakan bahasa Karo.

Tuesday, 22 October 2013

Bunga Bangkai Raksasa Mekar di Tepi Air Terjun Tarunggang


Bunga bangkai raksasa atau Titan Arum yang dalam bahasa ilmiah disebut Amorphophallus Titanum mekar di tepi air terjun Tarunggang, Tiga Juhar, Kecamatan STM Hulu, Deli Serdang, Sumatra Utara.

Bunga yang berasal dari Sumatra ini ditemukan oleh sekelompok orang dari komunitas Medan Petualang yang hendak menikmati keindahan Air Terjun Tarunggang. Mereka antusias karena baru pertama kalinya melihat bunga bangkai raksasa tersebut.

Ria Handayani, seorang anggota Komunitas Medan Petualang menuturkan keterkejutannya karena baru pertama melihat bunga yang sangat besar. Namun, dia juga kagum karena di lokasi tepi sungai yang tak jauh dari air terjun telah tumbuh bunga yang fenomenal itu.

"Keren sekali ada bunga bangkai raksasa, saya baru pertama kali melihatnya," ujarnya kepada Bisnis, Senin (21/10/2013).

Dia bersama rekan-rekannya tak mau kehilangan momentum untuk mengabadikan bunga bangkai raksasa itu. Meski untuk melihat bunga bangkai tersebut harus menuruni tebing curam di tepi sungai.

Bunga ini memiliki kelopak berwarna merah dengan putik berwarna putih kekuningan. Tinggi bunga ini sekitar 1,5 meter dan biasanya bisa tumbuh hingga 3,17 meter. Bunga bangkai raksasa ini akan mekar selama 24-48 jam kemudian segera layu.

Bunga bangkai raksasa dikenal karena bau busuknya yang menyengat terutama ketika  mekar penuh pada malam hari sampai dini hari. Kelopak bunga bangkai yang terbuka lebar akan menghasilkan hawa panas yang membuat baunya tersebar lebih jauh lagi. Kombinasi hawa panas dan baunya sangat memikat kumbang-kumbang besar dan kecil dari tempat-tempat lain.

Bunga bangkai merupakan tumbuhan khas dataran rendah yang tumbuh di daerah beriklim tropis dan subtropis mulai dari kawasan Afrika barat hingga ke Kepulauan Pasifik termasuk di Indonesia. Sebagian besar, bunga bangkai merupakan spesies endemik.

Bunga bangkai yang merupakan tumbuhan dengan bunga majemuk terbesar dan tertinggi di dunia ini termasuk tanaman dari suku talas-talasan (araceae) dengan bentuk dan ukuran umbi yang bervariasi pada setiap jenisnya.

Jenis yang paling dikenal dari bunga bangkai (Amorphophallus) adalah bunga bangkai raksasa atau suweg raksasa atau titan arum yang mempunyai nama latin Amorphophallus titanum dan Amorphophallus gigas atau Sumatera Giant Amorphophallus.

Bunga bangkai ini berasal dari Sumatra, pertama kali ditemukan pada tahun 1878 oleh Odoardo Baccari seorang pakar botani berkebangsaan Italia bersama rekannya Prof Giovanni dari Turki yang memberinya nama Latin Amorphophallus Titanum. Sejak itu bunga bangkai raksasa dikenal dunia.

Saturday, 19 October 2013

Terpesona Oleh Cantiknya Air Terjun Dua Warna


Sumatra Utara layaknya surga bagi penikmat petualangan dan keindahan alam yang masih belum banyak terjamah tangan-tangan jahil manusia. Keindahan alam di Sumut dapat membuat siapapun terpesona oleh kecantikannya.

Tengoklah Pulau Berhala, Pulau Mursala, Air Terjun Sipiso-piso, Danau Toba, dan ratusan lokasi wisata lain yang tersebar di seluruh wilayah Sumut.

Salah satu keindahan yang tersembunyi di Sumut adalah Air Terjun Dua Warna atau dikenal Air Terjun Telaga Biru Sibolangit. Air terjun dengan tinggi lebih dari 75 meter itu terletak di ketinggian 1.475 Mdpl.

Mengalir dari hulu sungai Sinembah 1 dan terbentuk dari letusan Gunung Sibayak ratusan tahun silam, membuat air terjun ini tampak eksotis dibandingkan dengan pemandangan serupa.

Disebut dua warna karena di dalam satu lokasi terdapat dua air terjun yang berbeda warna. Satu air terjun berwarna biru kehijauan sedangkan air terjun lainnya berwarna putih jernih.

Kedua air terjun tersebut saling berhadapan dengan suhu yang berbeda pula. Namun, yang paling mempesona adalah air terjun berwarna biru kehijauan dengan kandungan belerang yang keluar dari dinding-dinding bebatuan.

Air terjun yang berwarna biru indah memiliki suhu sangat dingin berhias tebing-tebing berlumut. Jatuhnya air membentuk kolam yang menggenang cukup luas dan menegaskan warna kebiruannya akibat aliran kandungan belerang.

Uniknya meskipun mengandung air belerang, air terjun yang telah sohor beberapa tahun terakhir ini tidak tercium bau belerang sama sekali. Tapi jangan sekali-kali mencoba untuk meminum airnya karena dikhawatirkan berbahaya.

Informasi yang beredar di masyarakat setempat, air terjun itu dinamakan dua warna karena saat air jatuh dari ketinggian tampak berwarna putih kelabu. Namun, ketika air itu telah tergenang berubah warna menjadi biru kehijauan.

Akan tetapi, di sekitar air terjun terdapat beberapa masyarakat yang berjualan kopi, mi instan, maupun makanan ringan lain, mengakibatan keindahan air terjun ini sedikit ternoda.

Untuk menikmati air tejun ini, wisatawan dapat menggunakan kendaraan umum ataupun pribadi dari Medan menuju Berastagi. Berjarak sekitar 57 Km atau ditempuh sekitar 1 jam perjalan tepatnya di Bumi Perkemahan Pramuka Sibolangit, Desa Durin Sirugun, Kabupaten Deli Serdang.

Jika membawa kendaraan pribadi, bisa dititipkan di posko ranger sekaligus membayar retribusi menuju air terjun Rp22.500/orang. Dari posko ranger, wisatawan akan dipandu oleh seorang 'guide' untuk tracking menembus hutan tropis yang masih perawan.

Tracking di hutan tropis membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam. Wisatawan dapat menikmati segarnya udara hutan tropis dengan pepohonan yang rimbun dan lembab serta aliran sungai berbatu dengan air yang sangat jernih.

Bila ingin berkemah, di hutan ini juga terdapat shelter atau kawasan disela-sela pepohonan yang memang diperuntukkan bagi lokasi camping. Tak perlu khawatir, jika di akhir pekan, banyak pencinta alam dan wisatawan yang camping di shelter tersebut.

Setibanya di air terjun, segala kepenatan dalam perjalanan menembus hutan tropis punggung Gunung Sibayak akan terbayar. Siapapun akan terpesona oleh kecantikan panorama air terjun dan keindahan alam di sekitarnya. Wonderful Indonesia.

Saturday, 21 September 2013

Indahnya Puncak Gunung Sinabung Saat Tak Erupsi


Medan Petualang di kaki Gunung Sinabung

Letusan Gunung Sinabung yang terjadi sejak Minggu dinihari (15/9/2013) memaksa lebih dari 15.000 warga meninggalkan rumahnya untuk mengungsi.

Mereka menghindar dari amukan gunung yang berada di Kabupaten Karo, Sumatra Utara tersebut karena sempat mengeluarkan material berupa asap dan abu vulkanik. Amukan Gunung Sinabung menyebabkan Kota Wisata Berastagi memutih tertutup abu vulkanik.

Saat tak batuk-batuk, Gunung Sinabung menjadi salah satu favorit pendaki yang ingin menikmati keindahan puncak tertinggi kedua di Sumut itu. Untuk mendaki gunung dengan ketinggian 2.451 meter di atas permukaan laut (Mdpl) membutuhkan waktu sekitar 6 jam.

Gunung Sinabung menjadi satu-satunya gunung di Sumut yang berkakikan Danau. Danau Lau Kawar menjadi pos pendakian yang biasanya digunakan sebagai areal camping oleh para pendaki.

Pesona Danau Lau Kawar menawarkan keindahan indahnya alam asri dengan pepohonan hijau di tepi danau. Terdapat pondok-pondok dan dermaga di danau yang telah tertata rapi itu. Gundukan-gundukan tanah dengan rumput hijau menghampar menajadi pemandangan taman nan menawan.

Ternak kerbau milik warga setempat tegah merumput di sekitar danau menambah pemandangan pedesaan yang sangat kental. Di pos perkemahan inilah disarankan pendaki untuk beristirahat mengumpulkan energi bagi pendakian dinihari mengejar 'morning glory' sang mentari pagi.

Mengisi waktu sebelum mendaki, bisa menyalakan api unggun terutama bila mendaki bersama rekan-rekan sehobi. Membuat api unggun di pinggir danau berjarak 27 Km dari Berastagi itu akan menambah kehangatan dan kebersamaan.
Danau Lau Kawar

Tengah malam bersiap untuk pendakian. Mendaki puncak Sinabung merupakan pilihan yang tepat untuk menghilangkan kejenuhan. Sepanjang pendakian menuju puncak masih ditemukan hutan tropis yang indah alami.

Hamparan ladang penduduk yang ditumbuhi sayur, buah dan bunga-bungaan yang berwarna-warni, menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Dalam perjalanan di hutan, juga akan merasakan bau khas daun-daun dan pepohonan yang akan ditemui didalam hutan tropis.

Kicauan burung-burung yang menggoda untuk diamati. Saat hampir mencapai puncak Sinabung, pendaki harus melalui tantangan berat jalan setapak berbatu dengan kiri-kanan jurangnya cukup curam.

Setelah sekitar 5-6 jam mendaki, tiba di puncak Sinabung akan terbayarkan rasa lelah setelah mendaki. Gunung yang memiliki lembah terukir indah dari satu punggungan ke punggungan lain, memiliki salah satu puncak yang paling menantang yakni puncak Batu Segal.

Kabarnya, nama 'Batu segal' diberikan oleh Tetua Karo disekitar kaki gunung. Puncak ini berbentuk pilar batu yang menjulang tinggi. Belum lagi pesona kawah Sinabung setia memuntahkan uap panas.

Desa di Kaki Gunung Sinabung terkeba abu vulkanik
Kawah itu bernama, Kawah Batu Sigala. Desas-desus yang beredar di masyarakat Karo, kawah itu menyimpan sejuta misteri yang tak terungkap hingga kini.

Sementara di bagian puncak cukup luas dan terjal. Di sebelah timur dari puncak terlihat keindahan Danau Toba dan Kota Medan dikejauhan. Di sebelah barat tampak keindahan Danau Lau Kawar dan hamparan rumah penduduk disekitar kaki gunung.

Dari puncak terlihat perawakan gunung Sibayak dan jejeran pengunungan Bukit barisan yang indah. Berada di puncak biasanya suhu rata-rata 15 derajat celcius.

Secara administratif Gunung Sinabung termasuk dalam Kabupaten Karo yang terletak di kecamatan Simpang empat. Gunung yang berkaki danau itu masih tergabung dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL).

Hutan yang dimiliki oleh gunung Sinabung merupakan hutan lindung berupa hutan alam pengunungan yang tergabung dalam Tahura Bukit Barisan (BB). Semoga Gunung Sinabung kembali tenang dalam tidurnya agar dapat melihat indahnya puncak Sinabung.

Wednesday, 11 September 2013

Sisa Keganasan Tsunami Pada Indahnya Pantai Lampuuk Aceh


Bersihnya pasir putih Pantai Lampuuk, Aceh

Tragedi bencana gempa dan tsunami yang melanda Aceh dan sekitarnya pada 26 Desember 2004 menyisakan duka mendalam bagi masyarakat. Tsunami telah menggulung ibukota provinsi paling ujung barat Indonesia itu.

Keganasan tsunami juga telah menggulung pantai barat Aceh yang dikenal dengan keindahan pantai berpasir putih sepanjang Banda Aceh hingga Meulaboh. Namun, dari keganasan tsunami itu ternyata masih menyisakan banyak keindahan alam Aceh.

Salah satu pantai indah dan eksotis adalah Pantai Lampuuk yang hanya ditempuh dalam waktu sekitar 15-30 menit dari Banda Aceh. Pantai berjarak 16 kilometer dari Banda Aceh menuju Meulaboh itu sangat mempesona.

Pantai yang terdapat di Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar ini dulunya tidak begitu dikenal masyarakat. Saat bencana tsunami melanda Aceh, pantai tersebut hancur dihantam besarnya gelombang tsunami dan menjadi salah satu daerah dengan kerusakan paling parah.

Sebagian besar rumah penduduk di sekitar Pantai Lampuuk hancur lebur diterjang gelombang. Lapangan golf yang ada di sekitar pantai tak luput dari ganasnya ombak tsunami.

Kini, Pantai Lampuuk menjelma menjadi tempat wisata favorit masyarakat Banda Aceh dan sekitarnya. Setiap akhir pekan, masyarakat Banda Aceh tumpah ruah ke pantai ini.

Pesona Pantai Lampuuk terletak pada keindahan pasir putih yang sangat bersih dengan garis pantai yang cukup panjang ini sedikit menjorok ke daratan sehingga seperti lengkungan setengah lingkaran. Sejauh mata memandang hanya tampak kilauan pasir putih hingga tebing karang diujung lengkungan teluk.

Kontrasnya warna biru langit dengan gumpalan awan putih dilapisi warna hijau pohon pinus yang berbaris rapi dibibir pantai dengan pasir putih bersih tanpa sampah membuat wisatawan kagum pada lukisan Tuhan tersebut. 
Keindahan Pantai Lampuuk, Lhoknga, Aceh Besar
Air laut terjauh tampak berwarna biru tua, berangsur menjadi warna hijau tosca pada kedalaman pantai yang lebih dangkal. Kemudian warna air menjadi jernih dan putih menjadi buih ketika ombak pecah menyentuh bibir pantai yang juga berpasir putih.

Wisatawan hanya boleh berenang di batas air berwarna hijau tosca yang ditandai dengan bola-bola terapung sekitar 15 meter dari bibir pantai. Namun, bagi turis yang menyukai olahraga selancar dapat surfing di pantai berombak cukup besar ini.

Menikmati Pantai Lampuuk selain berenang dan surfing, juga bisa mengintip indahnya terumbu karang dan biota laut dengan cara snorkling. Wisatawan juga dapat menikmati keindahan pantai itu dengan teduh di pondok-pondok yang disediakan oleh masyarakat setempat.

Pondok-pondok yang berjejer disela-sela pohon pinus itu dapat digunakan secara gratis. Pengunjung hanya perlu membeli makanan atau minuman yang disediakan oleh rumah makan di sekitar pondok tersebut.

Biasanya makanan yang disediakan adalah ikan bakar lengkap dengan nasi, es kelapa muda, serta makanan dan minuman lainnya. Selain menggugah selera, ikan bakar segar itu dibanderol cukup murah dengan harga Rp40.000-Rp100.000 per ekor.

Barisan pohon pinus di Pantai Lampuuk, Aceh
Pengunjung dapat memilih sendiri ikan yang diinginkan seperti kerapu, bawal, bandeng, dan ikan lainnya tentu dengan ukuran yang berbeda-beda. Hmm.. nikmatnya menyantap ikan bakar dan menyeruput es kelapa muda di bibir pantai nan mempesona.

Wisatawan di pantai ini juga dapat ikut bersama penduduk sekitar untuk melepas tukik-tukik penyu lekang dan penyu belimbing yang telah ditangkarkan. Selain itu, wisatawan juga dapat menikmati keindahan goa yang ada di sekitar tebing ujung Pantai Lampuuk.

Tunggu dulu, masih ada keindahan lainnya yang dapat dinikmati di Pantai Lampuuk. Sunset, ya! matahari tenggelam di pantai ini jauh lebih mempesona dibandingkan dengan sunset di Pantai Kuta, Bali.

Warna jingga hingga kemerahan layaknya terpendar dijernihnya air laut Pantai Lampuuk. Bulatnya matahari terbenam terutama saat cuaca sedang cerah pasti terasa romantis serta membuat kekaguman pada keindahan alam Indonesia semakin memuncak. 

Tak perlu khawatir, untuk masuk ke Pantai Lampuuk wisatawan hanya perlu merogoh kocek Rp3.000 per orang. Di pantai ini telah tersedia fasilitas penginapan, restoran, mushala, dan arena bermain anak-anak. 

Terkait keamanan di Aceh, tak perlu takut karena Aceh sangat aman. Penduduk Aceh sangat ramah dengan budaya yang Islami. Untuk itu, wisatawan disarankan mengikuti budaya Islami tersebut. Yuk, kenali negerimu, cintai negerimu...

Sunday, 25 August 2013

Mengintip Keindahan Bawah Laut Pantai Iboih Sabang

Pemandangan di Anoi Item Resort untuk melihat sunrise
 "Benarkah ini di Surga?" 

Pertanyaan itu akan muncul dibenak siapapun yang menginjakkan kaki di Pantai Iboih, Kota Sabang, Pulau Weh, Aceh. Pantai yang berada di ujung paling barat Indonesia ini benar-benar sempurna dan membuat siapapun ingin agar waktu terhenti.

Pantai Iboih terletak di Desa Iboih, Kecamatan Sukakarya, atau 23 kilometer dari Pusat Kota Sabang dan dapat ditempuh menggunakan taksi carteran selama 40 menit dari Pelabuhan Balohan. Pantai berpasir putih dengan air yang sangat jernih ini sangat cantik. Kontras dengan birunya langit dan hijaunya pepohonan di bibir pantai serta pemandangan Pulau Rubiah di seberangnya.

Bungalow-bungalow yang didesain berupa rumah panggung di atas tebing karang menjorok ke laut membuat wisatawan betah berlama-lama meski hanya sekedar bengong di depan kamar. Semilir angin laut yang tak begitu kencang dan debur ombak pantai layaknya harmoni alam yang menyejukkan hati dan pikiran.

Jangan terlena! masih ada surga dibalik surga Pantai Iboih. Surga yang lebih indah justru ada di bawah laut Pantai Iboih. Ya, tak sempurna bila berlibur ke Pantai Iboih tanpa mengintip indahnya kehidupan bawah laut di pantai ini. Ikan, terumbu karang, penyu, dapat dilihat hanya beberapa meter dari bibir pantai.

Wisatawan tentu tau cara mengintip surga di bawah laut yang terdapat sekitar 580 spesies ikan ini. Caranya dengan Snorkling dan diving. 

Bagi yang memiliki budget minim, mengintip bawah laut Pantai Iboh bisa dengan snorkling. Banyak yang menawarkan perlengkapan snorkling dengan harga yang terjangkau. 

Penyelam bersiap-siap untuk diving di Pantai Iboih Sabang
Untuk menyewa alat snorkling cukup merogoh kocek Rp40.000 per orang dan peralatan yang dapat digunakan yakni pelampung, masker snorkling dan fin atau kaki katak. Asyiknya, peralatan itu bisa dipakai seharian penuh.

Titik terumbu karang yang indah dan dapat dijangkau dengan snorkling hanya sekitar 5 meter dari bibir pantai Iboih hingga Pulau Rubiah yang berjarak 350 meter. Namun, bila hari beranjak petang disarankan tidak jauh ke tengah laut karena arus air laut mulai deras.

Tak perlu khawatir, jika arus mulai deras, snorkling tetap dapat dilakukan dengan menyusuri bibir pantai berkarang ke arah utara pantai. Terumbu karang berwarna-warni dengan ribuan ikan yang bergerak lincah di dalam jernihnya air bisa membuat lupa waktu.

Bila ingin menikmati alam bawah laut lebih leluasa, menyelam atau diving adalah pilihan yang tepat. Tarif untuk menyewa peralatan diving sekaligus didampingi oleh guide dipatok Rp400.000 per orang atau 25 Euro bagi turis asing. 

Tarif tersebut berlaku bagi wisatawan yang belum memiliki sertifikat diving dan harus mendapatkan kursus singkat selama 20 menit tentang cara-cara diving yang benar dan aman dari instruktur.
Seorang anak bule bermain ayunan di pantai iboih Sabang

Bagi wisatawan yang belum memiliki sertifikat diving, kedalaman maksimal yang dapat diselami hanya 10 meter dengan spot yang terbatas. Namun, penyelam pemula dipastikan akan puas menikmati indahnya terumbu karang selama 3 jam.

Sementara itu, wisatawan yang sudah bersertifikat diving dapat menikmati sekitar 20 spot diving yang memukau. Salah satu titik penyelaman yang bisa diselami adalah Titik Nol Kilometer atau yang biasa disebut Wall. Ini adalah dive spot yang sering jadi perbincangan di kalangan wisatawan.

Kemudian ada spot diving the Canyon terletak di sisi ujung Pantai Iboih. Hanya dapat diselami oleh penyelam bersertifikat. Di spot ini arus cukup deras. Namun, pemandangan bawah lautnya luar biasa tiada duanya di bawah kedalaman hingga 30 meter. 

The Garden, adalah salah satu spot diving favorit bagi pemula. Di sini layaknya di sebuah taman, ikan dan terumbu karang berwarna-warni. Arus di spot the Garden juga lebih bersahabat. Ikan-ikan di film Finding Nemo semua tampak ceria dan benar-benar seperti dalam dunia dongeng.

Seperti yang diungkapkan oleh warga setempat, "Santai Bang, ini Sabang..!!". Rasanya surga itu ada di Ujung Barat Indonesia. Yuk, ke Sabang?

Tuesday, 13 August 2013

Wisata Religi : Burma dan Ghuangzhou Ala Medan

Berbicara tentang Sumatra Utara, pasti langsung teringat suku Batak. Padahal, di Sumut terutama di Medan sebagai Ibukota provinsi bukan hanya etnis Batak lho, yang dominan justru etnis Melayu dan China.

Nah, kali ini saya bersama komunitas Medan Petualang mencoba mengeksplorasi wisata religi bagi agama Budha. Foto-foto ini rasanya seperti di Ghuangzhou China dan Burma atau Myanmar kan? Meskipun saya belum pernah pergi ke dua negara itu, tapi bisa dipastikan sangat mirip.

Padahal, foto-foto ini masih di Sumut. Tepatnya di Medan dan Berastagi, Kabupaten Tanah Karo.

Pertama, Maha Vihara Maitreya. Vihara ini adalah salah satu vihara terbesar di Indonesia. Kawasannya yang indah, kolam ikan koi, dan taman burung membuat siapa saja betah berlama-lama di sana.

Maha Vihara Maitreya memiliki lahan seluas 4,5 hektar. Vihara ini dibangun pada tahun 1991, di dalam kompleks Perumahan Cemara Asri, Jl Boulevard Utara, Medan. Sesuai dengan namanya, Maitreya, Vihara ini memang sangat kental dengan ajaran Buddha Maitreya yang mengajarkan cinta kasih semesta.

Jika masuk ke bagian dalam, pengunjung bisa melihat interior sederhana yang menghiasi. Suasana yang tenang dan sunyi juga terasa di sana, menambah khusyuk peribadatan.

Bagi yang senang binatang, di vihara ada kolam ikan koi dan taman burung. Ikan koi yang cukup besar berenang dengan lincahnya di kolam, sisi sebelah kiri Vihara.

Di Taman Burung, pengunjung dapat melihat puluhan atau bahkan ratusan burung sedang asik beristirahat. Konon, burung-burung ini adalah burung migran yang berasal dari Eropa dan Australia, dan menjadikan taman burung sebagai tempat singgah sementara.

Maha Vihara Maitreya terdiri dari 3 gedung utama. Di gedung 1, ada Baktisala Umum yang merupakan tempat pemujaan Buddha Sakyamuni, Bodhisatva Avolokitesvara, Bodhisatva Satyakalama. Daya tampung ruangan ini cukup besar, yaitu 1.500 orang.

Taman Avolokitesvara yang berada di kanan gedung memiliki sarana permainan anak, cocok untuk Anda yang datang bersama buah hati. Auditorium dengan kapasitas 130 orang juga ada di sini. Tidak sampai di situ, restoran vegetarian dan toko souvenir juga berada di gedung ini.

Pindah ke gedung 2, ada area Baktisala Maitreya dengan daya tampung 2.500 orang dan terdapat juga Baktisala Patriat Suci. Lantai ini juga dilengkapi dengan aula serbaguna yang bisa dimanfaatkan untuk ruang makan khusus resepsi.

Lanjut ke gedung tiga, ada balai pertemuan dengan daya tampung 2.000 orang. Kesamaan tiap gedung di vihara ini adalah memiliki wisma. Khusus gedung 1, wismanya dilengkapi dengan ruang perkantoran, ruang rapat, studio rekaman, dan dapur umum. Di bagian luar, Anda bisa melihat genta kebahagiaan setinggi 3,3 meter dan berat 7 ton yang diukir dengan kalimat Dharma Hati Maitreya.

Kedua, Rumah Tjong A Fie. Ketika masuk ke Kawasan Kesawan, di sebelah kanan jalan, Anda akan melihat rumah tua yang bergaya China dan didepannya terdapat gapura sebagai pintu masuknya. Ya, itu adalah Rumah Tjong A Fie, seorang pengusaha China kaya yang dulu sangat berjasa membangun kota Medan.

Rumah Tjong A Fie kini dijadikan Museum yang didalamnya banyak terekam sejarah kota Medan dan cerita sukses Tjong A Fie beserta keluarganya.

Untuk masuk kedalamnya, dikenakan biaya Rp35.000 dan Anda akan dipandu oleh guide yang tahu benar sejarah rumah Tjong A Fie tersebut. Sangat direkomendasikan buat Anda yang ingin tahu penggalan sejarah Kota Medan dan menyukai barang barang vintage, karena didalamnya anda masih bisa melihat banyak perbotan rumah yang masih tersimpan.

Rumah Tjong A Fie terbagi dalam tiga bagian, yakni ruang inti yang berada di tengah, sayap kiri dan sayap kanan. Sayap kanan sampai kini masih digunakan oleh keluarga Tjong A Fie sehingga yang dibuka untuk umum adalah bangunan utama dan sayap kiri rumah. Total ada 35 ruangan di dalam banguan seluas 4.000 meter persegi itu.

Dulu rumah sayap kanan digunakan sebagai ruangan bagi pembantu-pembantu Tjong A Fie. Adapun ruang utama digunakan Tjong A Fie dan keluarganya

Ketiga, kami mengunjungi International Buddhist Center Taman Alam Lumbini Berastagi. Taman Alam Lumbini, Berastagi adalah kompleks taman alam yang didalamnya terdapat sebuah kuil Buddha yang sangat megah.

Kuil ataupun Pagoda ini merupakan replika dari Pagoda Shwedagon yang ada di Burma(Myanmar). Warnanya yang kuning keemasan membuat pagoda ini tampak berdiri kokoh dan megah diantara pepohonan yang rindang.

Selain bangunan pagoda yang mengah, komplek seluas sekitar 3 hetar ini juga terhampar taman yang indah dengan mengikuti kontur alam yang curam yang menambah pesona dan keunikannya.

Replika Pagoda Shwedagon di Taman Alam Lumbini, Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara ini merupakan replika tertinggi kedua yang pernah ada atara replika sejenis yang ada di luar Burma dan merupakan tertinggi di Indonesia sehingga meraih rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) dengan kategori Tertinggi di Indonesia dan merupakan rekor pertama yang tercatat di Indonesia.

Bukan itu saja, TAL ini juga meraih rekor MURI dalam kategori Puja Bakti/Pemberkahan yang dihadiri oleh Anggota Sangha terbanyak pada-saat peresmiannya 30-31 Oktober 2010 silam, dimana 1.250 anggota Sangha yang hadir, terdiri dari 100 orang bhikkhu dari Indonesia, 650 dari Birma (Myanmar), 400 dari Thailand, dan dari negara-negara lainnya (dikatakan dari 20 negara Bikkhu ikut dalam acara Puja Bakti).

International Buddhist Center Taman Alam Lumbini Berastagi terletak di Desa Tongkeh, Kec. Dolat Rakyat, Kab. Karo, Sumatra Utara. Berada di sekitar Lokasi Wisata Berastagi dan berjarak sekitar 50 Km dari Kota Medan.

Untuk memasuki TAL tidak dipungut biaya sepeserpun alias gratis. Hanya saja, pengunjung harus menghormati tempat peribadatan ini dengan melepas alas kaki dan mengenakan pakaian yang sopan. Di sekililing TAL, terdapat taman, villa, perkebunan strowberry dan lainnya.